Ah.

Ramai siraman air yang menyentuh kulit-kulit penuh debu, hiruk pikuk kota, dan kepulan asap metromini. Peluh yang tersapu bersama buih-buih, serta merta membuyarkan kepenatan dan letihnya sehari itu. Mata yang akhirnya bisa tertutup mengamankan, dan pikiran yang justru membuka teramat lebar.
Dentingan air bak yang lebih kecil menyiptakan melodi-melodi ritmik yang entah mengapa, menenangkan. Mencari motif dan pola dari mosaik lantai yang seakan terus berubah. Merah-biru-bulat-biru-kotak-merah-merah-biru.
Sengaja mendiamkan diri di bawah hangat dan kepulan air dan asap putih, meregang leher, membiarkan hangatnya turun mengikuti lekukan-lekukan punggung ; rileks.
Ah, mandi saja sebuah anugrah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: