Archive

Monthly Archives: July 2012

I just feel…tired.
All of a sudden. Perhaps hormones.
I just feel like I wanna let it all out; those excitement, hatred, jealousy, insecurity, love, boredom, anger, disappointment, everything. Maybe a good cry will do. Maybe a friend or two to hear my blabbers and rants, not needing them to reply or give any advice; just need them to be there, present and alive. Maybe a couple songs.
It’s depressing, really.

Ini murni pandangan pribadi saya. Jika tidak berkenan, dapat mengirimkan pesan personal atau komen di post ini.

Selama 2 tahun saya kuliah di kampus “gajah” saya ini, perbendaharaan kata saya bertambah pesat. Baik perbendaharaan bahasa Indonesia maupun Inggris. Salah satu kata yang baru saya dengar di kampus ini ialah kaderisasi.

Kaderisasi, yang diartikan di KBBI sebagai pengaderan (yang diartikan sebagai cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader), atau singkatnya penurunan nilai, nampaknya menjadi salah satu kata favorit beberapa golongan mahasiswa disini. Kaderisasi ini, itu, tingkat 1, 2, Rancangan Umum Kaderisasi, dan sebagainya. Kaderisasi dianggap proses pelayakan atau persiapan bagi seorang mahasiswa untuk menjadi kader suatu organisasi. Kaderisasi ini bukan proses sekali jadi, namun proses yang berlanjut hingga mahasiswa tersebut berstatus alumni. Adanya tingkatan dalam rancangan umum yang dibuat oleh organisasi mahasiswa sentral di kampus saya menjelaskan apa saja yang diharapkan dicapai dalam proses berlanjut ini.

Jujur, dulu saya adalah salah satu dari mahasiswa-mahasiswa itu, yang gemar dengan kaderisasi-kaderisasi-an. Sampai sekarang saya juga menganggap bahwa kaderisasi itu adalah hal yang penting. Perlu dong, seseorang dipersiapkan terlebih dahulu sebelum mengemban sebuah tugas atau diberi tanggungjawab lebih?

Sayangnya, jika mendengar kata kaderisasi, banyak orang langsung mengidentifikasikannya dengan perploncoan, bully-bully massal, tugas-tugas aneh, bahkan kekerasan fisik. Kaderisasi pun identik dan sering disamakan dengan kata ospek.

Bully; verb (used with object)
6. to act the bully toward; intimidate; domineer.

Kemarin saya membuka dokumen briefing untuk interaksi dan opening dari kegiatan yang dianggap “kaderisasi terbesar di kampus”, dengan nama OSKM. OSKM ini adalah serangkaian kegiatan inisiasi atau penyambutan mahasiswa baru yang berlangsung selama kurang lebih 5 hari. Acara yang terdapat dalam rangkaian ini seputar sidang terbuka penyambutan mahasiswa baru, resmi dihadiri oleh rektor dan bahkan menteri RI, mentoring dengan kakak kelas, orasi-orasi yang kurang lebih membahas tentang kemahasiswaan dan nasionalisme, dan tentu, yang paling ditunggu-tunggu – interaksi dengan senior. Saat membaca dokumen briefing tersebut, saya kecewa. Kecewa, bercampur sedih, agak marah, dan prihatin. Memang, apa yang saya lihat di dokumen tersebut?

Yang saya garisbawahi secara spesifik adalah tulisan di bawah ini:

  • Meneriakkan pertanyaan dan pernyataan yang bertema “urgensi untuk bersatu”, bersifat satu arah, seperti “Satu apaan?” “Sudah saling kenal belum 1 angkatan?” “Bersatu de!!” “Cape ya de puasa? Yang lain bantuin dia dong!!” dsb.

Sore tadi, saat saya melihat timeline Twitter, saya menemukan foto yang menunjukkan senior-senior berbaris dengan muka menekan dan dengan gestur yang tidak ramah, mata terfokus pada maba yang jalan dalam barisan. Pada foto lain terlihat mahasiswa senior yang menarik seorang maba dari barisan untuk “berinteraksi”. Muka maba tegang, tentu. Tapi yang jadi fokus saya ialah muka senior yang terkesan menekan.

Saya sedih.

Alasan yang membuat saya tidak setuju dengan tulisan tersebut adalah:

  1. Kurang tepat guna. Bayangkan anda seorang mahasiswa baru. Pada bulan puasa, yang biasanya dihabiskan bersama keluarga di rumah, anda harus tinggal di Bandung untuk mengikuti matrikulasi selama sebulan – atau dua minggu, untuk mahasiswa yang lolos dari SNMPTN tertulis, dan pada waktu “Penyambutan Mahasiswa Baru” atau inisiasi, bukannya mendapatkan sambutan dari senior, anda malah diteriaki. Kalau itu tujuannya adalah untuk mendapatkan respek dari junior, wah, menurut saya, salah bung. Bisa-bisa, bukannya respek, malah dianggap gak beradab.
  2. Puasa. Secara spesifik, saya menegaskan ini untuk yang beragama Islam. Bulan puasa kan semestinya kita menjaga hawa nafsu kita kan, termasuk amarah. Berada dalam lingkungan yang “panas” dan penuh teriakan, kontan membawa kita menjadi tereksitasi dan ikut-ikutan, bisa-bisa emosi sendiri. Puasa-puasa ada baiknya, toh, menjaga emosi? Lebih baik menyebarkan energi positif. Hehe.
  3. Discouraging untuk maba. Mahasiswa baru masuk, masih baru adaptasi dari lingkungan SMA dan mungkin kota yang berbeda. Jika mereka saja tidak disambut dengan baik-baik dari senior yang semestinya mengayomi dan membantu mereka, pasti jadi ciut dong? Hal-hal kaya gini juga bisa bikin (beberapa) maba jadi males untuk ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan kampus. Jadi, tujuan yang awalnya bikin imej kuat-kuat dan jumawa jadi gagal deh. Tujuan integrasi atau semangat berkemahasiswaan pun jadi luntur.
  4. Dilakukan atas dasar yang belum tentu semua orang ngerti. Jujur, saya pun juga sebenarnya kurang ngerti. Tapi saya memilih untuk tidak ikut-ikutan. Tapi tidak menutup kemungkinan banyak orang diluar sana yang ikut apa kata ketua atau kadiv himpunan dan kontan marah-marah, kadang diluar batas wajar.
  5. Refleksi tahun lalu. Tahun lalu, ketika saya menjadi panitia lapangan acara ini (acara ini tahunan), ada kejadian dimana mahasiswa baru pada tengah malam, memilih untuk melewati Jl Taman Sari yang notabene tidak aman dibanding melewati dalam kampus. Alasannya? Takut. Takut pada senior yang pada siang harinya melakukan hal yang sama seperti yang tertera pada dokumen briefing tersebut. Hasilnya? Mahasiswa tersebut dijambret orang, sependengaran saya sampai diminta baju seragamnya.

Saat membaca tulisan tersebut, saya berpikir, masih ya? Bukannya tidak pernah saya dulu meneriakkan kalimat-kalimat tersebut, entah pada kaderisasi himpunan atau kampus. Tapi setelah melewati proses tersebut dan melewati berbagai acara, hal tersebut saya rasa kurang pantas. Mendengar pendapat dari junior saya yang saya perlakukan sama dengan prosedur di atas, mereka lebih merasa mendapatkan manfaat dan terinspirasi dari bincang-bincang santai dibandingkan orasi atau diteriaki dengan materi yang sama. Melalui bincang-bincang tersebut, saya menjadi lebih kenal dekat dengan mereka, begitupun mereka kepada saya. Jadi, selain “nilai” organisasi saya terturunkan, saya pun mendapat koneksi baru.

Lalu, apa saja alternatif yang saya tawarkan untuk mengubah keadaan ini?

  1. Bincang-bincang santai seperti yang tertera di paragraf sebelumnya.
  2. Tugas yang lebih tangible. Dengan memberikan tugas yang lebih “nyata” atau tangible, mahasiswa baru lebih dapat berinteraksi secara mendalam dengan satu yang lainnya. Untuk membuat ide ini feasible, waktu yang dibutuhkan memang lama, sehingga menurut saya rangkaian kegiatan resmi mungkin bisa selesai pada 5 hari atau kurang, namun untuk tujuan “mempersatukan” lebih baik dengan membuat acara bersama. Jadi, pertanyaan atau seruan retoris seperti tadi tidak perlu digunakan. Contohnya adalah makrab angkatan dari seluruh fakultas seperti yang diadakan tiap tahunnya, namun dengan konsep yang lebih matang.
  3. Sharing session. Saya telah beberapa kali menyebut nama teman saya, Hendra Kwik, pada blog saya ini. Saya terinspirasi dan tergerak olehnya. Alangkah lebih baiknya jika orang lain mendapat kesempatan ini bukan? Mungkin acara inisiasi ini dapat mengadakan sharing session dari alumni atau senior yang dibuat menarik. Mungkin, untuk membuat tidak terlalu membosankan, dibandingkan dikumpulkan jadi satu di Sabuga, dapat dipisah jadi per fakultas.
  4. Festivity! Selama dua tahun saya kuliah disini, saya melihat “warna-warni kampus Ganesha” pada dua acara. Satu adalah OSKM ini dan yang kedua – yang menurut saya pribadi jauh lebih membahagiakan, menyenangkan, dan membanggakan, kontras dengan OSKM yang cenderung lebih menegangkan, walau juga dapat menimbulkan rasa bangga – wisuda. Wisuda, dimana tiap himpunan akan berlomba-lomba untuk membuat arak-arakan yang paling meriah untuk mengantar lulusannya keluar dari kampus ini. Jahim sana-sini, senyum sana-sini. Kadang, walau saya gak kenal pun, saya bisa terharubiru, trenyuh melihat parade ini. Ide gila saja, bagaimana kalau ini dipakai untuk menyambut anak baru itu? Tidak dengan spesifik tema, tapi lebih ke arah atmosfirnya yang bahagia dan megah.

Ide saya mungkin banyak cacat sana-sini, mungkin kurang sesuai dengan materi atau analisa kondisi, tapi saya yakin, atmosfir yang lebih membahagiakan dan ramah dapat membawa maba ini, paling tidak, lebih merasa disambut di kampus barunya.

Kalau (banyak yang) tahu tradisi lama ini kurang benar, kenapa harus dilanjutkan? 😉

 

Oh ya, selamat datang putra-putri dari berbagai penjuru bangsa! (Kalau ada embel-embel dan merasa terbaik terus, nanti jadi malas untuk berkembang lho.)

I’m having my iBT TOEFL test tomorrow and truthfully, I am rather nervous.

I have taken PBT, ITP, and TOEIC test before, and even managed to score nicely. However they are all paper-based. I have never done a speaking nor writing test before; and yes I am nervous.

I have tried recording myself answering the sample questions provided, just to make sure that I will make my articulation and speech clear. Indeed they are, but I sounded like an imbecile.

Why don’t they make it like an interview?? Why must I record myself???????

*mental breakdown*

If you guys never heard of this song title, your life has been such a waste.
Just kidding.

But seriously, LOOK IT UP. It’s a song by Oasis, and it’s one of my personal favorite. It’s a(n epic) 7-minutes long. It’s in the album (What’s the Story) Morning Glory?. I could spend a half an hour laying in my bed, doing nothing, just listening this song on repeat. This song has all the emotion, you know, you could get overly excited upon hearing the flowing-water-like intro and the guitar solo. You could even cry under no reason. Or perhaps that’s just me.

I have just made a perfect ending to my day by gazing at the sunset – which is exceptionally beautiful today, as a matter of fact. It was enormous, with its edges clearly seen, some part of its dimming orange light covered with purplish clouds – with this song as the background. Or the other way around, doesn’t matter, still epic.

The lyrics is somewhat absurd.

How many special people change, how many lives are living strange? Where were you while we were getting high?

Perhaps it is my limited sense of understanding figures of speech or poetry, but I find it absurd. Its writer, Noel Gallagher, also the guitarist of the band, even stated in an interview back in 2009 that “…I don’t fucking know (about the exact meaning of the lyrics). But are you telling me, when you’ve got 60,000 people singing it, they don’t know what it means? It means something different to every one of them.” Words, Mr. Gallagher, words.

So, what are you waiting for? Go check the song!

Oh, p.s.: a real supernova in 2003 was named after the song.

You know it’s a good song when an astronomical event is named after it. Don’t waste another second.

The problem with you spending your whole day under your blanket, watching DVDs for hours while your boyfriend is somewhere out there doing some productive things and making things work is guilt.
My God, I need to do something.
pfft, achievers.

(Latar belakang cerita: Cahya ingin berenang, gakpunya kacamata renang)

Pacar  :  Pinjem kacamata aku aja 😀

Cahya :  (belum menjawab)

Pacar  :   Tapi aku gaikut gpp ya (siapa jg yg ngajak)

Cahya :  Anggepannya kalo ini RM aku udah ketawa sambil tepuk tangan

(this post will be menye-menye, panjang, and super personal)

Seringkali saya mengeluh atau mencak-mencak dan kesal-sampai-rasanya-mau-teriak kalau lagi di SBM. Entah karena script Oddisey yang belum kelar-kelar, MS Access yang gak jalan-jalan, tim dan jadwal yang suka seenaknya sendiri, hearing yang susah kuorum dan ga efektif dan muter-muter, tutor dan dosen yang kadang tugasnya gak masuk akal, deadline yang mendadak, dan banyak list lainnya lagi.

Seringkali saya iri kalau mendengar cerita dari jurusan lain, bahkan universitas lain, rasanya ingin ambil SNMPTN lagi (for the record, pernah lho, berniat seperti ini). Bukan tidak pernah lagi menangis karena stress dan menyesal dan “galau fakultas”. Yah, walau masa-masa itu udah lewat sih.

Hari Kamis lalu, jujur, saya lagi sangat, sangat menye SBM.

Diawali dengan ngeliat angkatan 2012 yang lagi pake baju formal dan seliweran di koridor lantai 1 untuk foto ijazah, saya jadi nyadar, GILA MEREKA MAU LULUS OKTOBER INI. Rasanya super cepet. Dengan lulusnya 2012, nyadarin berarti saya akan masuk menjadi senior tertua mau lulus mahasiswa tingkat akhir swasta; for God’s sake. Maygat.

Dilanjutkan dengan obrolan bersama salah satu teman (yang kemarin baru saja lulus!) di SBM, Riska, dan Greg, seorang senior juga di SBM, yang sedang menjalani tahun terakhirnya. Obrolan kami seputar S2, exchange ke University of Kent dari Erasmus Mundus yang Greg dapatkan (salut!), impen-impenan bisa keliling dunia atau balik ke Cambridge, dan mimpi-mimpi saya yang (hampir selalu) terbengkalai akibat inferiority issue atau sesederhana dikalahkan rasa malas. Obrolan sekitar satu jam lebih sedikit itu bener-bener wake-up slap. Bener-bener nyadarin kalo waktu yang saya punya tinggal sedikiiiiiiiit lagi kalau mau ambil beasiswa dan semacamnya. Bener-bener nyadarin kalo selama ini udah berapa jam detik menit yang kebuang demi goler-goleran di kasur atau makan hedon di kafe-kafe fancy di Bandung.

Karena obrolan itu, sebenernya saya jadi bersyukur masuk ITB. Dibandingkan SMA, jujur memang nilai lebih cemerlang di SMA, namun saya gak pernah tau tuh yang namanya lomba ini itu, perusahaan ini itu, konferensi ini itu yang nampaknya sangat heboh untuk banyak orang di ITB. Bahasanya; wawasannya terbuka gituh di ITB.

Seselesainya ngobrol, saya datang ke kuliah penutup wajib yang diberikan oleh Kaprodi dan…….pengenalan konsentrasi.

Di SBM, tahun terakhir ada yang namanya konsentrasi yang terbagi jadi 6; business strategy & marketing, business risk & finance, decision making, e-track, management of innovation & technology, dan operation. Keenam konsentrasi ini sebelumnya sudah ada kuliah wajibnya  2 tahun silam ini. Jadi, dosen-dosen pengajar konsentrasi ini pernah ngisi audi sebelumnya.

Mulailah kemenyean mendobel ketika satu persatu dosen yang dulu pernah ngajar saya masuk. Di SP ini, pelajaran yang saya ambil keempatnya kalo nggak saya jarang masuk audinya (hehe….), dosennya bukan dosen SBM, atau isinya 80% guest lecture. Jadi, dengan satu persatu masuknya dosen-dosen sebelumnya rasanya trenyuh.

Dimulai dengan masuknya Pak Subi dan Bu Maya. Dosen ekonomi yang sangat, sangat baik ini masuk dengan ketawanya yang khas. Bu Maya, tentu dengan stiletto ungunya, masuk juga. Economics was one of my favorite lessons back in 5th Semester. Rasanya kalo ada konsentrasi Ekonomi mau deh ambil. Pengen rasanya diajarin sama mereka lagi.

Lalu masuklah Pak Herry. Dosen yang dulu pas tingkat 1 (yeuh, kesannya udah lama banget) ngajar Business Communication (yang juga salah satu pelajaran favorit) masuk juga dengan ketawa-ketawa santai ala Pak Herry. Rasanya jadi inget masa-masa CCK dengan segala kehectican dan marah-marah dan kesenangannya. Ingat pula, ketika final presentation, Pak Herry sangat senang sama hasil CCK DG A4 (WE ROCK!) sampai ditepuktanganin segitunya sama dia. Hiks.

Masuk Pak Akbar. Dosen TOM ini bikin inget masa-masa TOM yang bolehlah ngobatin rasa kangen akan matematika dan TOM Competition. Masuk Pak Aurik. Salah satu dosen “assabiqunal al-awalun” (maksudnya dosen pertama yang saya dapet gituh. dosen semester 1) yang ngajar IMSB dengan suara dan nadanya yang khas.

Nadia, yang duduk di sebelah saya bilang “Sampe ada Bu Mia keparahan sih ini”. Jengjeng. Bu Mia masuk. Bu Mia, yang merupakan dosen Management Practice – atau lebih dikenal dengan Oddisey – mengajar di SubKK Marketing. Kontan saya dan Nadia heboh galau menye gajelas kaya nano-nano.

Nggak cukup dengan ngeliat mereka aja, ketika mereka satu-satu presentasi di depan, gaya audi khas mereka keluar dan seketika jadi inget mata kuliah apa aja yang udah saya ambil di SBM…dan tinggal berapa SKS lagi yang harus saya ambil. Dan kemudian TA. Dan kemudian lulus.

Pak Subi dengan angkat-kaki-taro-speaker, Bu Maya dengan jalan ke atas audi berenti di tengah, Pak Aurik dengan suaranya yang sangat khas, Bu Mia yang bikin pengen Oddisey lagi, dan lain-lain. Seketika saya pengen belajar finance (tsah gaya lo), rebek Vertione lagi, rebek CCK lagi, belajar Monte Carlo Simulation lagi, dan rasanya semua pelajaran dan sesi-sesi audi sekelibat di depan mata (baru juga berapa).

Dengan cuaca yang hujan-hujan mendung dan petir, adanya malah makin galau konsentrasi. Dengan semangat ambi efek ngobrol sama Riska dan Greg, sekelarnya kuliah bukannya leha-leha kaya biasa tapi langsung semedi di payung nyocokin pelajaran yang tadi dijelasin sama beban SKS sama minat.

Seakan belum puas bikin menye, alam semesta dan segala kondisi di dalamnya nambahin pikiran lagi dengan Oddisey. Sekelarnya saya menye di SBM dan memutuskan untuk pergi dari sana, saya baru nyadar, saya udah beli tiket Oddisey show hari Kamis. Oddisey adalah theatrical show yang disajikan oleh mahasiswa SBM tahun pertama tiap akhir semester pendek tahun pertamanya. Tahun lalu, saya masuk di genre Comical Romance, dimana saya adalah scriptwriter + supporting actressnya. Walau kerja saya kurang maksimal, saya mendapatkan banyak, banyak sekali pelajaran di Oddisey (menari, menyanyi, harus diet biar bisa nari closing, among others). Nonton Oddisey 2012 rasanya…….sedih.

It’s not because the show was bad, no, it was enjoyable.

Tapi karena saya jadi ingat, sudah setahun lalu itu Oddisey, sudah taun depan waktunya TA bukan teater-teater macam sekolah seni gitu. Jadi inget rasanya gladi di DTH, make vacuum cleaner buat kursi DTH yang debuan, teriak-teriak backstage nyiapin kereta sterofoam super gede, stage manager teriak-teriak scene apa abisini, make-up dan hairdo yang bikin saya sedikit mirip bencong, rasanya kelar scene, proper slow dance satu-satunya seumur idup pas closing, dan rasanya kelar Oddisey. Kelihatan di backstage (secara saya dapet kursi paling depan) mereka lagi sibuk lari-lari ganti baju dan kelar scene. Kelihatan muka mereka pas curtain call yang rasanya lepas beban semua namun di sisi lain juga sedih kenapa udahan. Kelihatan pas nyanyi reff lagu Oddisey yang sepenuh hati. Dst dst.

Lengkap sudah rasa menyenya. Klimaks dengan kenangan Oddisey sembari nonton DVD Oddisey tahun lalu.

Kelengkapan hari Kamis itu kesimpulannya satu:

No matter how much I loathe my days at SBM, one thing for sure: it’s damn fast.