Indonesia, Travel, and Features

Terkadang sedih dan miris, tapi juga kecewa dan bete, kalau tiba-tiba lagi browsing Lonely Planet atau National Geographic dan melihat gambar-gambar yang rasanya tidak asing seperti sate, atau bajaj, atau foto-foto Human Interest yang sangat-terlihat-Indonesia-sekali, tapi saat di-klik ternyata tempatnya di Malaysia, Singapura, Thailand, atau Sri Lanka.

Seperti barusan, saya membuka situs Lonely Planet mengenai tempat-tempat untuk les masak yang unik disini, dan di halaman tersebut terdapat gambar sate. Saya penasaran, namun begitu saya klik, ternyata itu diambil di Malaysia. Beberapa hari sebelumnya saya juga melihat gambar Ibu-ibu memikul belanjaan di pasar, namun ternyata itu ada di Vietnam/negara Asia Tenggara lainnya. Tadi siang juga saya membuka situs National Geographic Traveler mengenai rute-rute traveling terbaik di Asia, dimana tidak ada trek apapun yang melewati Indonesia.

Dulu, pas keranjingan nonton Discovery Channel hampir setiap saat, suka bete sendiri sama Dinas Pariwisata Indonesia yang iklannya kok rasanya gak pernah muncul dibandingin sama Malaysia Truly Asia, Uniquely Singapore, Infinite Seoul, dan Incredible India.

Lebih bete lagi pas liat apa yang dijual oleh negara-negara Asia, khususnya Asia Tenggara, pada iklan pariwisata mereka itu mirip-mirip sama Indonesia. Misalnya, orangutan, situs selam, gua, makanan, dan motif-motif kain.

Masa-masa nonton Discovery Channel itu juga kadang-kadang diselingi sama kebetean akibat minimnya penyebutan dan kasus-kasus yang datangnya dari Indonesia. National Geographic Channel pun begitu. Liputan mengenai Kekaisaran Cina Kuno ataupun Kerajaan Khmer atau Sungai Mekong pernah difiturkan. Tapi, agaknya lebih jarang ada liputan yang berasal dari Indonesia. About Asia dan Megacities, misalnya. Seingat saya selama 3 tahun setiap hari nonton channel TV tersebut, saya cuma ingat sekali nonton Megacities: Jakarta. Bahkan di acara makan-makanan, cukup jarang makanan Indonesia masuk situ. Memang pernah, sih, ada di Anthony Bourdain: No Reservations. Tapi, dibandingkan dengan makanan-makanan di negara Asia Tenggara lainnya, dapat dibilang lebih jarang.

Duh.

Bukannya gimana-gimana, bukan iri terhadap negara lain, dan bukan kesal sama negara lain dengan alasan “nyuri budaya” – karena menurut saya memang nenek moyang kita sama, dan lingkungan kita sangat, sangat mirip – tapi saya jadi mikir, kok bisa?

Kalau saya lagi menjelaskan ke teman dari negara lain tentang Indonesia, mereka biasanya terkagum-kagum sama seberapa beragam dan banyaknya budaya-budaya yang ada di Indonesia. Bahkan, ngejelasin nasi kuning aja mereka udah heboh. Pas dibilang bahwa masing-masing provinsi bisa-bisa punya jenis dan varian soto mereka sendiri, entah bagaimana deh, sikap mereka.

Menurut saya pribadi, Indonesia itu sangat, sangat potensial dari segi pariwisata dan budaya. Kalau dibikin buku, rasanya bisa sampai 1000 halaman kalau per provinsi mau dijelaskan satu-satu kekhasannya apa saja. Di tangan seorang marketer yang benar dan handal, yakin deh, kayanya satu dunia mau jalan-jalan ke Indonesia.

Entah pada acara TV di Discovery Channel ataupun National Geographic itu harus ada kerjasama dengan pemerintahnya atau tidak (jujur, saya kurang tahu) tapi pasti ada sebabnya kenapa hal-hal yang mirip – bahkan terkadang lebih buruk – dari apa yang ada di Indonesia malah mendapat pamor lebih.

Tapi, satu yang jelas: ada yang salah dengan marketing dan packaging pariwisata Indonesia.

Sebegitu potensialnya kita, dengan ratusan – atau mungkin ribuan – tarian tradisional dan baju adat warna-warni, tapi yang diiklankan adalah bagaimana mal-mal kita sudah memiliki merk-merk internasional. Dengan situs selam yang notabene terbagus di dunia dan pantai-pantai tak tersentuh, yang sering diiklankan adalah yang sudah jenuh wisatawan.

Coba saja, Indonesia bisa memperbanyak intensitas adanya fitur lengkap di situs atau channel traveling terkenal, pasti, makin banyak wisatawan yang ingin berkunjung ke negara kita.

Eh, tapi tentu. Perbaikan sarana dan fasilitas yang menunjang kenyamanan di lokasi pariwisata itu tetap harus ditingkatkan terlebih dahulu.

Semoga, yah, nanti.

Advertisements
2 comments
  1. santhy said:

    just a thought, akhir-akhir ini sih gue sering lihat kuis di indonesia yg ngasi hadiahnya tiket wisata gitu dan menurut gue cukup oke buat marketing-in pariwisata kita hehe

    • C said:

      setuju sih. tapi untuk promosi ke internasional msih belom ada yang signifikan dari pemerintahnya 😦 kalo dari instansi lain sih ada kaya kuis atau socmed tp kl dr pemerintah hem..mengentang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: