SBM dan Menye-menyenya

(this post will be menye-menye, panjang, and super personal)

Seringkali saya mengeluh atau mencak-mencak dan kesal-sampai-rasanya-mau-teriak kalau lagi di SBM. Entah karena script Oddisey yang belum kelar-kelar, MS Access yang gak jalan-jalan, tim dan jadwal yang suka seenaknya sendiri, hearing yang susah kuorum dan ga efektif dan muter-muter, tutor dan dosen yang kadang tugasnya gak masuk akal, deadline yang mendadak, dan banyak list lainnya lagi.

Seringkali saya iri kalau mendengar cerita dari jurusan lain, bahkan universitas lain, rasanya ingin ambil SNMPTN lagi (for the record, pernah lho, berniat seperti ini). Bukan tidak pernah lagi menangis karena stress dan menyesal dan “galau fakultas”. Yah, walau masa-masa itu udah lewat sih.

Hari Kamis lalu, jujur, saya lagi sangat, sangat menye SBM.

Diawali dengan ngeliat angkatan 2012 yang lagi pake baju formal dan seliweran di koridor lantai 1 untuk foto ijazah, saya jadi nyadar, GILA MEREKA MAU LULUS OKTOBER INI. Rasanya super cepet. Dengan lulusnya 2012, nyadarin berarti saya akan masuk menjadi senior tertua mau lulus mahasiswa tingkat akhir swasta; for God’s sake. Maygat.

Dilanjutkan dengan obrolan bersama salah satu teman (yang kemarin baru saja lulus!) di SBM, Riska, dan Greg, seorang senior juga di SBM, yang sedang menjalani tahun terakhirnya. Obrolan kami seputar S2, exchange ke University of Kent dari Erasmus Mundus yang Greg dapatkan (salut!), impen-impenan bisa keliling dunia atau balik ke Cambridge, dan mimpi-mimpi saya yang (hampir selalu) terbengkalai akibat inferiority issue atau sesederhana dikalahkan rasa malas. Obrolan sekitar satu jam lebih sedikit itu bener-bener wake-up slap. Bener-bener nyadarin kalo waktu yang saya punya tinggal sedikiiiiiiiit lagi kalau mau ambil beasiswa dan semacamnya. Bener-bener nyadarin kalo selama ini udah berapa jam detik menit yang kebuang demi goler-goleran di kasur atau makan hedon di kafe-kafe fancy di Bandung.

Karena obrolan itu, sebenernya saya jadi bersyukur masuk ITB. Dibandingkan SMA, jujur memang nilai lebih cemerlang di SMA, namun saya gak pernah tau tuh yang namanya lomba ini itu, perusahaan ini itu, konferensi ini itu yang nampaknya sangat heboh untuk banyak orang di ITB. Bahasanya; wawasannya terbuka gituh di ITB.

Seselesainya ngobrol, saya datang ke kuliah penutup wajib yang diberikan oleh Kaprodi dan…….pengenalan konsentrasi.

Di SBM, tahun terakhir ada yang namanya konsentrasi yang terbagi jadi 6; business strategy & marketing, business risk & finance, decision making, e-track, management of innovation & technology, dan operation. Keenam konsentrasi ini sebelumnya sudah ada kuliah wajibnya  2 tahun silam ini. Jadi, dosen-dosen pengajar konsentrasi ini pernah ngisi audi sebelumnya.

Mulailah kemenyean mendobel ketika satu persatu dosen yang dulu pernah ngajar saya masuk. Di SP ini, pelajaran yang saya ambil keempatnya kalo nggak saya jarang masuk audinya (hehe….), dosennya bukan dosen SBM, atau isinya 80% guest lecture. Jadi, dengan satu persatu masuknya dosen-dosen sebelumnya rasanya trenyuh.

Dimulai dengan masuknya Pak Subi dan Bu Maya. Dosen ekonomi yang sangat, sangat baik ini masuk dengan ketawanya yang khas. Bu Maya, tentu dengan stiletto ungunya, masuk juga. Economics was one of my favorite lessons back in 5th Semester. Rasanya kalo ada konsentrasi Ekonomi mau deh ambil. Pengen rasanya diajarin sama mereka lagi.

Lalu masuklah Pak Herry. Dosen yang dulu pas tingkat 1 (yeuh, kesannya udah lama banget) ngajar Business Communication (yang juga salah satu pelajaran favorit) masuk juga dengan ketawa-ketawa santai ala Pak Herry. Rasanya jadi inget masa-masa CCK dengan segala kehectican dan marah-marah dan kesenangannya. Ingat pula, ketika final presentation, Pak Herry sangat senang sama hasil CCK DG A4 (WE ROCK!) sampai ditepuktanganin segitunya sama dia. Hiks.

Masuk Pak Akbar. Dosen TOM ini bikin inget masa-masa TOM yang bolehlah ngobatin rasa kangen akan matematika dan TOM Competition. Masuk Pak Aurik. Salah satu dosen “assabiqunal al-awalun” (maksudnya dosen pertama yang saya dapet gituh. dosen semester 1) yang ngajar IMSB dengan suara dan nadanya yang khas.

Nadia, yang duduk di sebelah saya bilang “Sampe ada Bu Mia keparahan sih ini”. Jengjeng. Bu Mia masuk. Bu Mia, yang merupakan dosen Management Practice – atau lebih dikenal dengan Oddisey – mengajar di SubKK Marketing. Kontan saya dan Nadia heboh galau menye gajelas kaya nano-nano.

Nggak cukup dengan ngeliat mereka aja, ketika mereka satu-satu presentasi di depan, gaya audi khas mereka keluar dan seketika jadi inget mata kuliah apa aja yang udah saya ambil di SBM…dan tinggal berapa SKS lagi yang harus saya ambil. Dan kemudian TA. Dan kemudian lulus.

Pak Subi dengan angkat-kaki-taro-speaker, Bu Maya dengan jalan ke atas audi berenti di tengah, Pak Aurik dengan suaranya yang sangat khas, Bu Mia yang bikin pengen Oddisey lagi, dan lain-lain. Seketika saya pengen belajar finance (tsah gaya lo), rebek Vertione lagi, rebek CCK lagi, belajar Monte Carlo Simulation lagi, dan rasanya semua pelajaran dan sesi-sesi audi sekelibat di depan mata (baru juga berapa).

Dengan cuaca yang hujan-hujan mendung dan petir, adanya malah makin galau konsentrasi. Dengan semangat ambi efek ngobrol sama Riska dan Greg, sekelarnya kuliah bukannya leha-leha kaya biasa tapi langsung semedi di payung nyocokin pelajaran yang tadi dijelasin sama beban SKS sama minat.

Seakan belum puas bikin menye, alam semesta dan segala kondisi di dalamnya nambahin pikiran lagi dengan Oddisey. Sekelarnya saya menye di SBM dan memutuskan untuk pergi dari sana, saya baru nyadar, saya udah beli tiket Oddisey show hari Kamis. Oddisey adalah theatrical show yang disajikan oleh mahasiswa SBM tahun pertama tiap akhir semester pendek tahun pertamanya. Tahun lalu, saya masuk di genre Comical Romance, dimana saya adalah scriptwriter + supporting actressnya. Walau kerja saya kurang maksimal, saya mendapatkan banyak, banyak sekali pelajaran di Oddisey (menari, menyanyi, harus diet biar bisa nari closing, among others). Nonton Oddisey 2012 rasanya…….sedih.

It’s not because the show was bad, no, it was enjoyable.

Tapi karena saya jadi ingat, sudah setahun lalu itu Oddisey, sudah taun depan waktunya TA bukan teater-teater macam sekolah seni gitu. Jadi inget rasanya gladi di DTH, make vacuum cleaner buat kursi DTH yang debuan, teriak-teriak backstage nyiapin kereta sterofoam super gede, stage manager teriak-teriak scene apa abisini, make-up dan hairdo yang bikin saya sedikit mirip bencong, rasanya kelar scene, proper slow dance satu-satunya seumur idup pas closing, dan rasanya kelar Oddisey. Kelihatan di backstage (secara saya dapet kursi paling depan) mereka lagi sibuk lari-lari ganti baju dan kelar scene. Kelihatan muka mereka pas curtain call yang rasanya lepas beban semua namun di sisi lain juga sedih kenapa udahan. Kelihatan pas nyanyi reff lagu Oddisey yang sepenuh hati. Dst dst.

Lengkap sudah rasa menyenya. Klimaks dengan kenangan Oddisey sembari nonton DVD Oddisey tahun lalu.

Kelengkapan hari Kamis itu kesimpulannya satu:

No matter how much I loathe my days at SBM, one thing for sure: it’s damn fast.

Advertisements
2 comments
  1. Ninis said:

    Did you loathe SBM just because it was hard, deadlines came fast, oddissey script didn’t work, etc? Was it that bad?

    • C said:

      Hey there Ninis, sorry for the late reply. I once hated SBM not only because of the mentioned reasons in your comment, of course. I once hated it mostly because of personal reasons; I was a science-loving student in one of Indonesia’s best engineering & science school, studying…erm…business? That, on top of my close friends sharing about their experience facing calculus and physics, was a bit exhausting and frustrating back then.

      As for the deadlines and tasks, I think it depends on how you see it. We, SBM-ians, often claim that we’re incredibly busy compared to our engineering friends. However I am not 100% sure that that’s the case. With incredibly little holiday (we have to take Semester Pendek on summer holiday) for three years, yes, it’s a tight schedule. But as for the workloads, all I’ve got to say is that SBM has lots of groupworks, so if you love working in groups, you’ll be suitable. And mind you, working in groups often have this certain formula: 70% playtime 30% actual work. Soooooooo yup it takes longer time, IMO. I’m sure all college students basically have the same workload, only that they come in different forms.

      All in all, having graduated from SBM 8 months ago (hence able to give an unbiased, fair view), I believe that SBM is a good school. We’re competitive (in the workplace; from my batch, I can proudly say that 75-80% of my peers already had a job/currently taking masters, mostly under 3 months after graduating). I can even say that we might as well be the top 3 business schools in Indonesia! So, my advice is, fear not. Whatever my blog post indicates, it’s not that SBM is the worst school imaginable, it’s just the normal teenager-questioning-life-decisions kind of cliche.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: