Archive

Monthly Archives: September 2012

Ngga tahan untuk nulis.

Buku, kopi susu ABC, Minggu siang yang sama sekali nggak ramai, hujan, keabstrakan Woody Allen, Hegarmanah dan udaranya yang sejuk, nampak jauh dari mana-mana, dan tenang dalam sendiri.

Minggu siang well spent.

Advertisements

Ia melihat hamparan bunga di sekelilingnya, mencium bau segar rumput yang baru dipotong, memanjakan kupu-kupu yang bergelut manis di tangannya. Berjalanlah ia, merasakan halusnya kelopak bunga yang menggelitik di kakinya. Mereganglah tangannya, membuka jarinya, merasakan angin-angin yang melewati jarinya; menyapa, lembut.

Ia membenarkan rambut panjangnya yang kusut oleh angin, menyisirnya dengan jarinya, membenarkan tiara kecil yang tertata manis di kepalanya.

Berbalik badan dan melambai pada tupai-tupai dan kelinci lucu yang menunggunya, lalu berlari menuju mereka.

Ia seorang putri. Katanya. Dengan tiara, dan gaun yang nampak berat, gembung, dan heboh, orang pun percaya. Ditambah dengan temannya yang kebanyakan makan kacang mentah untuk kudapan dan melompat atau memanjat pohon, ia tentu seorang putri.

—————

Lelaki itu mengecek penampilannya barang satu kali lagi. Memastikan rambutnya tersisir rapi, coklat keemasan, dan tak terusik walau terterjang angin. Memastikan lagi persiapannya untuk menghadapi medan perang hari ini terbawa dan siap pakai. Memastikan lagi bahwa sang musuh belum melakukan pergerakan yang berarti.

Badannya tegap, dengan dada yang bidang dan tangan serta kaki yang terlihat kuat. Mukanya seakan memancarkan kepercaya-dirian, seakan ia yakin dapat mengalahkan dan menaklukkan musuh-musuhnya dengan sekali gerakan tangan. Ia memastikan bahwa pita suaranya dapat diajak berkompromi, siap melawan teriakan dan memberi teriakan penyemangat di medan penuh sesak dan emosi itu.

Masuklah ia ke medan perang.

!

BISING. Manusia biasa akan langsung keok, langsung pergi – tapi tidak dengan lelaki itu. MARAH. Luapan emosi satu per satu muncul, sering muncul bersamaan. MERAH. Merah, berceceran di medan perang, dan kontan semua orang bereaksi. Mengibrit. Kesana kemari.

Tidak ada lagi rambut coklat keemasan tersisir, mana ada. Yang tersisa hanyalah sisa-sisa peperangan hari itu, yang akan disambut lagi esok hari. Dengan emosi yang sama. Dengan risiko yang sama.

Read More

Saya sangat, sangat menghargai orang yang berani mengeluarkan pendapat. Berani mengutarakan uneg-uneg dan opini, walau mungkin pendapatnya jauh berbeda dari orang lain, bahkan kadang melawan arus. Orang yang dapat menyuarakan apa-apa yang dibisukan oleh orang-orang lain. Yang berani pertama kali menanggung risiko yang mengikuti perkataannya. Ia yang berani berdiri, yakin akan perkataannya.

Saya ingin menjadi orang yang seperti itu.

If Rebecca Bloomwood of Confessions of a Shopaholic found joy on windowshopping, swiping her credit card, lured by mannequins, trying on clothes and scarves and gloves, I found mine on……..browsing flight deals.

 

Scrolling down the list of destinations, I could almost hear the sound of waves and the calling of oceans of Phuket, airport announcements of flights departed and delayed, boarding calls and arrivals. Looking more carefully, as I read the names of the cities and their codes, flashes of the check-in hall of KLCC, arrival halls of Thanh Sonh Nhat Airport, the blinding city lights of Hong Kong, workers cleaning down Orchard Road at the first ray of sunlight, and girls in kimono on a district in Kyoto begin to appear in my mind.

Clicking on that pretty, alluring Search button, hope raises. Anxiously waiting, staring at the rotating circle as if it was an attraction of some sort. Waiting, as the system browses through thousands of flights, millions of available seats, and connecting hundreds of amazing cities.
And, oh! The search result popped up! Millions of hopeful people having their prayer answered.
And, oooh, that moment when you have a good deal! Those sizzling hot numbers! That smile on your face! Isn’t life wonderful? It’s as if you’d like to shout loudly to let everyone know you are in an incredibly happy mood. It’s as if you’d like to shake the person sitting next to you and hug him so very tightly. It’s as if you’d like to continuously talk and ramble to whoever-person. It’s as if you were in such excessively happy state that you have to channel everything out of you.

Proceeding, clicking on that exact departure and arrival hour, imagining the waves of cloud shimmered by sunlight upon having a day flight, stars above and city lights below upon having an evening flight; oh, wow. The exact thing I want to do is skip the dull and boring days to the departure date.

As I fill in my personal info I couldn’t help but be proud of myself for having such a good deal and reward myself with images and what-to-dos of my destination. Can I just please go already?

And. That. Moment. When all tickets have been paid, flight itinerary sent to your email; happy. I’m happy. Don’t you?

That feeling when you click on the Update button and see that for July 2013:

  • Kuala Lumpur – Bangkok = 520thousand IDR
  • Kuala Lumpur – Hongkong = 1.24mil IDR
  • Kuala Lumpur – Haneda = 1.92mil IDR
  • Kuala Lumpur – Incheon = 1.7mil IDR
  • Kuala Lumpur – Melbourne = 2.4mil IDR

ALL IN.

These prices are lazily obtained. If I was more eager and waited until exactly 00.00 last night, I’m 100% sure I would get cheaper prices.

*gasping for air*

ONLY WISH THEY STILL HAVE EUROPE DESTINATIONS!

Take me to the snowy mountaintops. Take me to Paris. Take me to the International Space Shuttle. Take me to the sky. Take me to the Dead Sea. Let’s float freely. Take me to the hikes of Mt Fuji. Take me to 1950’s Chicago. Take me to the boat that sails across Lake Lucern to Rigi-Vitznau. Take me anywhere, anywhere at all.