Lost in Timeless Horizons

Ia kosong. Termenung. Dalam gelap. Terbayang dalam otaknya potongan-potongan bagian tari kontemporer tanpa suara. Wanita bertutu yang meregangkan kakinya. Wanita yang terjatuh. Lampu panggung yang mulai redup. Teringat tuts-tuts piano.

Lalu ia lepas. Menatap atas. Menatap entah apa.

Terpejam. Meregangkan lehernya sendiri, capai. Dalam gelap dan diam, ia terbawa.

Bayangan akan videonya dengan latar belakang gunung bersalju itu membawanya ke Skandinavia. Atau Tibet. Atau Carstensz. Ia tak peduli. Selama ada puncak bersalju dan langit biru, ia terbawa. Terbang, bebas, lepas bersama hembusan angin yang menerpa jaket tebalnya. Marah, hilang, bersama teriakannya yang teredam deru angin. Ia melompat dan membuka mata.

Tersadarkan oleh hentakan air, ia menikmati ruangan sendirinya. Terjagakan dari suara, kebisingan makhluk-makhluk sosial, hiruk pikuk darat, ia merasa segalanya berjalan……..lambat. Meregangkan tangan dan kaki, membiarkan matanya terbasuh.

Diam

Dan lama.

Meringkuklah ia seperti janin pada rahim. Menghisap jempolnya yang kisut karena air. Kemudian menutup matanya.

Dan terbangun.

Advertisements
1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: