Tentang Dongeng

Ia melihat hamparan bunga di sekelilingnya, mencium bau segar rumput yang baru dipotong, memanjakan kupu-kupu yang bergelut manis di tangannya. Berjalanlah ia, merasakan halusnya kelopak bunga yang menggelitik di kakinya. Mereganglah tangannya, membuka jarinya, merasakan angin-angin yang melewati jarinya; menyapa, lembut.

Ia membenarkan rambut panjangnya yang kusut oleh angin, menyisirnya dengan jarinya, membenarkan tiara kecil yang tertata manis di kepalanya.

Berbalik badan dan melambai pada tupai-tupai dan kelinci lucu yang menunggunya, lalu berlari menuju mereka.

Ia seorang putri. Katanya. Dengan tiara, dan gaun yang nampak berat, gembung, dan heboh, orang pun percaya. Ditambah dengan temannya yang kebanyakan makan kacang mentah untuk kudapan dan melompat atau memanjat pohon, ia tentu seorang putri.

—————

Lelaki itu mengecek penampilannya barang satu kali lagi. Memastikan rambutnya tersisir rapi, coklat keemasan, dan tak terusik walau terterjang angin. Memastikan lagi persiapannya untuk menghadapi medan perang hari ini terbawa dan siap pakai. Memastikan lagi bahwa sang musuh belum melakukan pergerakan yang berarti.

Badannya tegap, dengan dada yang bidang dan tangan serta kaki yang terlihat kuat. Mukanya seakan memancarkan kepercaya-dirian, seakan ia yakin dapat mengalahkan dan menaklukkan musuh-musuhnya dengan sekali gerakan tangan. Ia memastikan bahwa pita suaranya dapat diajak berkompromi, siap melawan teriakan dan memberi teriakan penyemangat di medan penuh sesak dan emosi itu.

Masuklah ia ke medan perang.

!

BISING. Manusia biasa akan langsung keok, langsung pergi – tapi tidak dengan lelaki itu. MARAH. Luapan emosi satu per satu muncul, sering muncul bersamaan. MERAH. Merah, berceceran di medan perang, dan kontan semua orang bereaksi. Mengibrit. Kesana kemari.

Tidak ada lagi rambut coklat keemasan tersisir, mana ada. Yang tersisa hanyalah sisa-sisa peperangan hari itu, yang akan disambut lagi esok hari. Dengan emosi yang sama. Dengan risiko yang sama.

——————–

Ia yang menyebut dirinya putri itu diawasi dari jauh, oleh mereka yang memakai jubah hijau. Jubah putih. Kadang dengan masker.

Tak ada perubahan signifikan, sebut seorang dengan jubah hijau itu. Hm, memang sudah permanen. Ia memang gila.

Lalu dicoretlah kertas-kertas pada papan itu. Dokter pun pergi.

———————

Hari itu memang hari yang buruk bagi broker dan trader. Kebakaran; kata pakar. Indeks-indeks yang semuanya turun, berwarna merah pada layar.

Yang sepertinya seorang ksatria, ternyata hanya seorang trader.

——————-

Fiksi dan narasi kadang memang menyesatkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: