Idea: Food Fest for Introverts.

Kemarin, 30 September 2012, saya dateng ke Keuken Food Festival di Lodaya. Sebenarnya, menurut saya konsepnya oke. Daripada ke mal-mal, sumpek-sumpek, itu-itu lagi, bolehlah ya sekali-kali kita “reclaim the streets” (tagline-nya Keuken) dan menikmati jalanan sambil menikmati kuliner Bandung yang makin unik?

Kalau urusan makanan, ergh, impulsiveness level unimaginable deh. Kalap mata. Kalap lidah. Kalap perut. Terus di Keuken banyak yang menurut saya menarik, kaya Risoles Melepuh, Es Kering, Mie Merapi. Paling nggak bukan cuma cupcakes-cupcakes dan red velvet yang mengambil spotlight dunia kuliner anak muda beberapa bulan terakhir ini.

Namun, apa yang saya pikirkan kemarin di Keuken? Laper? Enak? Kalap?

Ramai. Sesak.

Sebenernya hal yang bagus sih, acaranya sukses, makanannya laku, tujuan orang-orang untuk “kembali ke jalan” juga tercapai. Tapi, mungkin memang dasarnya jiwa ambivert-introvert lagi muncul kali ya. Haha.

(Sekilas tentang introvert: http://www.theatlantic.com/magazine/archive/2003/03/caring-for-your-introvert/302696/)

Nah! Kemarin di Keuken penuh sesak. Saya aja hampir gabisa berjalan leluasa. Itu jam 6-an, yang mana panggungnya baru main dan DJ set-nya juga baru beberapa. Lebih malam lagi mungkin lebih ramai. Reportase teman saya yang ke Keuken siang hari bilang siang hari relatif lebih sepi, walau tetap ramai.

Saya, yang lagi ingin dan muncul sifat introvert-nya (bukan antisocial), merasa sesak. Ingin beli makanan, tapi ada komunitas sedang berkumpul di depannya. Ingin duduk untuk menikmati makan, tempat duduk yang disiapkan rasanya ngga mencukupi jumlah pengunjung. Penasaran lagi baca menu, terdorong oleh arus pengunjung yang ramai bergerak menuju panggung. Intinya, saya yang ke Keuken tujuannya untuk cari dan makan makanan yang lucu-lucu ini gak tercapai.

Lalu muncul sebuah ide!

A food fest for the introverts.

A food fest where you are not obliged to socialize. A food fest where you play calm and slow music instead of rock bands and DJ set. A food fest where you come to look for food.A food fest where everyone’s walking slowly, not rushing to meet someone in front of the music stage. A food fest where you can smile at strangers, but not needing to continue to further conversations. (ya ya, mulai)

Bayangin ambience kaya Kineruku, tapi banyak makanan lucu! Playlist semacam itu, banyak tempat duduk, banyak buku, banyak makanan! Ngga ada yang ngeliatin kalo beli Chicken Tartar-nya Siete sambil duduk di kursi kosong, menikmati makanan aja sendirian.

Dimana mungkin lombanya bisa selain yang membutuhkan socializing skill seperti share twitter atau instagram, atau Instax Competition, mungkin hunting clues? Atau justru ngga butuh lomba. Adain tempat dan ambience-nya aja, kayanya this little, oft-misunderstood group would be happy.

Atau justru ngga ada yang dateng?

Advertisements
7 comments
  1. nsanthy said:

    yakin bisa dan ada yg dateng! :)) tapi ya kaya yang lo bilang di atas, yang ‘dijual’ gue rasa bakal beda. maksudnya kalo di food fest ini yang ditujuin beneran makanannya. let’s say traditional food fest gitu misalnya. sedangkan keuken (kalo dari sepengamatan gue) tujuannya ningkatin awareness masyakat ke ruang-ruang publik ini. dan sejujurnya gue sedikit ngerasa beberapa orang yang kesana lebih ngincer ke prestige acaranya, atau mungkin sense of wanting to belong to somekind of a community? mungkin gara-gara itu orang-orang berlomba buat socializing and dress up ke keuken.

    sekedar fyi, dua kali gue pernah ke keuken dan masih berkutat dengan pertanyaan yg sama : kalo udah selesai makan-makan cantik dan mingle dikit gue ngapain lagi ya enaknya?

    • C said:

      setuju sih! Ingin yang benar2 buat makan aja. Tapi kadang gue pikir kalo emang buat ngeraise public awareness for ruang publik kayanya ngga juga. Karena kalo diliat2 ya dateng, mingling, pulang, dan ngga tertarik untuk datang ke tempat itu lagi kalau ngga ada acara.

      Enaknya? Bungkusin buat gue 🙂

  2. C said:

    A question raises.

    How do you filter the extroverts so that those introverts would not be further misunderstood? How do you make this event tepat sasaran?

  3. nsanthy said:

    i do not know much about extroverts. tapi, extroverts itu pergi ke suatu acara kalo temen-temennya ke sana juga ga sih? tapi ya setelah dipikir-pikir lagi excluding them from this kind of event would be a bit harsh, don’t you think? klasifikasi extrovert-introvert-ambivert ini rancu juga sih menurut gue. contohnya gue ga selamanya 100% introvert gitu hahaha (again with the self claiming), karena gimana pun introvertnya gue toh gue tetep pengen gather around those who are extroverts. cuman mungkin intensitasnya yang bisa dikurangin.

    konklusi : gue jg jd bingung sama jawaban pertanyaannya.

    another question raises : parameter kesuksesan acaranya apa dong kalo bukan dari crowdnya? makanannya abis? ntar kalo ga ada yg dateng acara berikutnya gimana?

    another conclusion : gimana kalo bikin acara semacam kaya baca buku rame-rame + live reading + music folk di taman aja yuk.

    • C said:

      Parameternya kita bikin comment board/box. terus mereka puas. lalala~

  4. nsanthy said:

    dan gue baru sadar. dengan bikin acara itu murni for the sake of the good food otomatis bakal ngefilter those extroverts deh kayanya. bikin aja yang ga usah ada performances macem-macem. malem-malem, makan soto bandung, orkestra mini (misal), kunang-kunang. udah deh hahahaha.

    • C said:

      malem-malem, makan soto bandung, orkestra mini (misal), kunang-kunang. udah deh hahahaha.>>>>> dibawahi sinar rembulan. IYA SERAH LO CAH.

      Kineruku aja dah yok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: