Undangan Pernikahan, Perdagangan Laut, dan Museum.

Layaknya anak SD kebanyakan, saya pergi ke museum hanya ketika ada kunjungan sekolah. Saya ingat pergi ke Museum Fatahillah, Museum Bahari, Museum Gajah bersama teman dan guru SD saya. Saat itu, juga layaknya anak SD lainnya, saya hanya pergi ke museum, melihat artefak-artefak sambil lalu, mengisi LKS yang diberi guru, menertawai bentuk meriam aneh yang ada di Museum Fatahillah, dan acuh kepada Bapak Penjaga Museum yang menjelaskan barang-barangnya. Kala itu, museum bagi saya tidak lebih dari tempat wisata favorit untuk sekolah-sekolah agar dapat mempromosikan jargon “berwisata sambil belajar”.

Sejak itu, bisa dihitung jari berapa kali saya ke museum sampai SMA. Sekalinya saya ke museum pun, itu adalah ketika saya berada di kota yang memang menonjolkan wisata budayanya seperti Jogjakarta. Bagi saya kala itu, museum membosankan. Bagaimana tidak, artefaknya berdebu, tempatnya gelap, seram, baunya pengap dan lembab. Saya pun tidak dibebani oleh LKS berlembar-lembar. Buat apa saya ke museum?

Walau museum bagi saya membosankan, lain halnya dengan sejarah. Saya suka sekali dengan sejarah, sangat suka. Waktu SD kelas 5 dan 6 dulu, saya selalu mengklaim bahwa saya adalah jagonya IPS (kecuali ekonomi koperasi), dan saya dapat menjelaskan runut waktu jaman penjajahan Belanda hingga kemerdekaan. Waktu SMP, saya dapat menjabarkan kepada Ibu dan Kakak saya mengenai kerajaan Kutai hingga Mataram Islam, dengan tambahan cerita-cerita trivial seperti alasan kenapa Majapahit dinamakan Majapahit. Sewaktu SMA, saya terobsesi dengan sejarah Inggris. Saya diberikan kemudahan perpustakaan SMA yang begitu lengkap dan menariknya hingga saat istirahat dan pulang sekolah, saya berhenti di perpustakaan untuk membaca buku-buku sejarah Inggris. Saya ingat pernah meminjam Horrible Histories: English Monarch, membaca biografi Elizabeth I dan perseteruannya dengan Mary I, bahkan Arthur and the Knights of the Round Table. Secara spesifik, saya jatuh cinta kepada cerita-cerita era Tudor.

Karena itulah, pada tahun 2010, ketika saya dapat pergi ke London dan melihat situs-situs seperti Tower of London dan Hampton Court, I was more than happy. Rasanya seperti hidup di buku-buku yang selama ini saya kagumi!

Ketika saya masuk Hampton Court Palace, saya benar-benar terkejut. Tidak pernah saya membayangkan bahwa tempatnya akan sebagus itu! Bayangkan saja, ketika pengunjung masuk, kita disambut oleh pengawal yang memakai baju dari zaman dulu. Di gerbang masuk, kita diberi beberapa barang: brosur, peta, dan undangan pernikahan. Ya, undangan pernikahan. Henry VIII yang terkenal dengan 6 istrinya itu menikah dengan Kateryn Parr di Hampton Court Palace. Dan saya diberi undangannya. How sick was that? Tentu, undangannya bukan asli, namun hanya sebuah drama dan role-play dimana pengunjung dapat membantu Kateryn Parr memilih baju nikahnya, serta melihat seremoninya.

Wedding Invitation di Hampton Court Palace

Wedding Invitation di Hampton Court Palace

Ketakjuban saya tidak berhenti sampai situ. Ketika saya melewati dapurnya, saya melihat restoran yang ternyata menjual makanan-makanan dari zaman 1700-an. Waw. Berada di Hampton Court Palace kala itu seperti benar-benar membawa saya ke era Tudor.

Sepulangnya dari sana, saya berpikir, kenapa ya, kok ketika saya ke Keraton tidak seheboh ini?

Kemudian pertanyaannya berhenti tak terjawab.

————-

Lain lagi ceritanya ketika saya pergi ke Singapura dan memasuki Southeast Asia Civilization Museum. Kunjungan saya ke museum ini bukannya karena saya niat dan tertarik, hanya saja saya bosan dan memiliki waktu luang. Ternyata, di museum tersebut sedang ada pameran Perdagangan Asia Tenggara yang menjelaskan mengenai rute-rute perdagangan laut di Asia Tenggara. Museumnya cukup menarik, dengan pencahayaan yang exquisite dan audio guide yang informatif.

Kunjungan saya ketika itu cukup berakhir dengan kekesalan. Kenapa?

Banyak dari artefak dan cerita yang disajikan pada pameran itu berasal dari Indonesia, namun sayangnya tidak pernah sekalipun saya melihat display dan cerita semacam itu di museum apapun di Indonesia, bahkan Museum Nasional. Saya kesal dengan Depbudpar (masih Depbudpar waktu itu) atau Depdikbud (sekarang) atau apalah itu yang websitenya sendiri sekarang masih tertukar (kemdiknas.go.id dan budpar.go.id).

Saya pulang dari museum tersebut membawa kekesalan dan suatu ide.

——-

Setelah kunjungan-kunjungan ke museum di Inggris, saya berubah. Saya ketagihan pergi ke museum. Saya merasakan interaksi antara sejarah dan pengunjung di museum-museum tersebut. Disana saya menyadari bahwa pergi ke museum memang dapat memberi ilmu sambil berwisata.

Berangkat dari situ, saya hobi ke museum. Ketika sampai di Indonesia, saya mengajak teman saya ke Museum Nasional, penasaran. Ketika di Bandung, saya mengajak teman saya ke Museum Konperensi Asia Afrika, juga penasaran. Bahkan waktu itu saya mendaftar menjadi anggota SMKAA (Sahabat Museum KAA). Ketika saya pergi ke Amerika, saya kesenengan sendiri bisa ke Smithsonian Museums (bahkan sempat berkaca-kaca terharu saking kerennya). Ketika saya punya pacar (akhirnya), saya mengidekan museum date. Ketika saya pergi ke kota-kota lain di Indonesia, yang saya cari di internet adalah ada museum apa sajakah di kota tersebut.

Berangkat dari situ, saya memutuskan untuk menjadikan Museum Sri Baduga sebagai topik Tugas Akhir saya (iya, iya…dikerjain abisini…).

Berangkat dari situ, saya memiliki harapan, ide, doa, agar museum-museum di Indonesia nantinya bisa memberikan pengalaman dan perasaan yang saya dapatkan ketika saya mengunjungi Hampton Court Palace. Saya ingin agar nantinya saya bisa pergi ke Museum Nasional dan melihat ruangan arcanya tidak seramai, menyeramkan, dan selembab itu lagi. Saya harap 9000 koleksi yang Museum Sri Baduga miliki dapat diputar dan tidak berhenti di ruang penyimpanan. Saya ingin agar saya dapat, entah bagaimana caranya, merubah sistem manajemen museum yang ada di Indonesia, beserta dengan sistem pemasarannya. Saya berharap bahwa 20 tahun dari sekarang, anak-anak SD akan memiliki persepsi yang berbeda dari saya ketika SD dulu, bahwa museum membosankan, menyeramkan, dan berdebu. Bahwa museum lebih dari lembaran LKS dan meriam berbentuk aneh. Saya berdoa agar museum di Indonesia dapat berubah, berubah menjadi lebih baik.

Selamat Hari Museum Internasional!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: