Archive

Monthly Archives: July 2013

Sebenernya awalnya rasanya biasa aja.

Tadi saat selesai auditorium dan duduk manis di tutor, tiba-tiba Naufal masuk ke kelas tutor dan bilang “eh, ke audi lagi yuk, foto angkatan hari terakhir kuliah.” Saya baru ingat, ini hari terakhir saya kuliah di SBM ITB. Beberapa minggu yang lalu, saya dan beberapa teman saya mendiskusikan hal ini, betapa cepat rasanya dunia perkuliahan sampai-sampai sudah hari terakhir kuliah. Kala itu rasanya saya mengharu biru, mengingat masa-masa awal kuliah dulu; saat rambut semua orang masih berbeda, beberapa orang masih kelebihan beberapa belas kilogram di badannya, dan ketika semua orang masih memakai Blackberry Messenger.

Namun, ketika hari ini datang, saya merasa biasa-biasa saja.

Mungkin orang-orang terlalu terlelap diantara SERVQUAL, Merger & Acquisition, Corporate Culture, Supply Chain, dan Portfolio Tugas Akhir-nya masing-masing. Mungkin juga “Hari Terakhir Kuliah” itu overrated.

Lucunya, justru ketika saya sendirian di kamar kos sibuk me-refresh online spreadsheet kuesioner TA saya, saya merasa hari ini bukan hari-yang-biasa-biasa-saja.

Welcoming ReceptionMari kita mulai dengan foto ini. Culun banget segala-galanya, ngga ngerti.

P Art!!Dilanjutkan dengan foto ini. Omg Kevin Giarto kurus banget, lo kenapa sih sekarang???!!!! My braceless teeth and those sweet Stewardess moments. (Remember Candyman? ;))

Auditorium, duluKala Fanny masih gondrong, Nadyana masih bulat, dan Cahya…gitu-gitu aja. Huft.

IMG_3566Why do I look thinner then? Sigh……

CCK!!!!

CCK!!! Mulai dari nyalon bareng Fanny nyuekin BBM Kevin, Tibor foto model sampe bahu, Fiqdi dan Kevin berkelana mencari kaos print, Dora dengan halaman-halaman laporan, serta Wira yang setia mengurusi logistik dan setia meminjamkan rumah ❤

—————–

Tetiba saja seperti semuanya muncul di kepala. Mulai dari Wirzal dan odong-odongnya, Performance Art pramugari dan cuni, Teawalk ke Kebun Teh Walini, TPB Cup dan arogansi fakultas (dan tentu yel Cantik, Cantik, Cantik!), eksperimen “Si Kaya dan Si Miskin”, ekskursi ke Garut (dengan sambal super enak, bintang malam di sawah, rendezvous di Pantai Santolo, naik pick-up, teriak-teriak heboh sendiri ketemu kelompok lain, minum Ale-Ale Strawberry setiap hari), CCK C59, Oddisey dan “Abang Gendang”-nya Comical Romance, permen Sersan “Seger Pisan”, masa-masa (kelam) IBE dan (paksaan) personal selling, jagain stand di berbagai macam event, TOM competition, sampai akhirnya berpisah sendiri-sendiri dengan mata kuliah pilihan serta topik-topik Tugas Akhir masing-masing.

Teringat bahwa di audi yang sama, hampir tiga tahun lalu, seorang dosen menantang kita untuk menjatuhkan bohlam tanpa pecah dan merusak balok dengan koran. Di tempat yang sama itu, hampir dua setengah tahun lalu, tempat itu ditutup kain hitam dengan kostum-kostum yang berubah-ubah (terkadang pramugari, ada juga pangeran India, kadang juga napi, dan beberapa kali mini). Di tempat yang sama itu, hampir dua setengah tahun lalu, kita pernah berdiskusi panas tentang pembagian kelompok ekskursi. Di tempat yang sama itu, dua tahun lalu, tim artistik pernah bertengkar dengan tim SO (haha).

Auditorium yang biasa-biasa saja itu menjadi tidak biasa, ketika saya mengingat apa saja yang pernah terjadi di dalamnya. Apa saja yang auditorium itu pernah cium dari dupa-dupa yang dibakar ketika P. Art. Apa saja yang auditorium itu pernah dengar dari bisikan-bisikan bosan anak-anak ketika kuliah. Apa saja yang auditorium itu pernah saksikan – pertengkaran, tertawa, kesedihan mendalam, kefrustasian.

Sebuah post yang amat terlalu dini untuk perpisahan (melambai ke Draft TA.docx) namun terlalu sayang untuk tidak disampaikan.

Terima kasih SBM 2013.

Advertisements

Loneliness is bliss.

While people beg for companion, while today’s youth’s problem is almost definitely about love and finding a partner, while people are arguing who’s the better friend, today I am faced off by the fact and premise that loneliness is bliss.

The less we get to be involved with people, the less pain we will receive.

Less expectations unmet. Less promises broken. Less conflicts. As my friend, Santhy, put it, people need to learn not to cling to other. We must learn to not have dependency upon others. The less emotional transaction we have, the less chance for us to have conflicts, hence the less chance for us to get hurt. As selfish it might sound, but, who would want to get hurt? Who would want to feel pain? And yes, this is a justification for being selfish.

People would argue that the less you get to be involved with people, the less happy you will become as well. No.

Being less involved means that you are willing to be more lonely than you were, that you want to be lonely, that you embrace loneliness along with its consequences. Once we are aware of that, we do not expect other people to be our sole source of happiness. Once we are aware of that, we find happiness, or whatever positive emotion, in emptiness.

Different with ignorance.

Ignorance is, for me and a friend of mine, Mirza, a state where you happen to be lonely when you actually want to be heard, want to be with someone else. Ignorance does not embrace emptiness. Ignorance is not ready for the consequences that follow. Ignorance is more of a forced result than a voluntary action. And as far as I understand it, I conclude that ignorance is not bliss. Loneliness is.