Archive

Monthly Archives: April 2016

This post is a part of my 2016 reading commitments.


Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah novel karya Ahmad Tohari yang ditulis tahun 1982, awalnya dalam edisi trilogi. Singkatnya, novel ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Srintil yang menjadi ronggeng dari Dukuh Paruk, tentang perjalanannya menjadi seorang ronggeng seutuhnya dan setelah menjadi sangat terkenal, bagaimana keadaan politik di tahun 1960-an mempengaruhinya.

Mungkin judul ini terdengar tidak asing — karena memang, di tahun 2011 karya ini diadaptasi menjadi film dengan judul “Sang Penari”.

Saya pun membeli novel ini kira-kira tidak jauh dari tanggal promosi film tersebut. Jadi, yah… buku ini sudah terletak di rak saya kira-kira lima tahun! Hehe.

Ketika saya mencoba membaca lagi novel ini, saya jadi ingat kenapa lima tahun lalu itu saya tidak jadi membacanya — bahasanya lumayan berat. Jujur, saya tidak terlalu banyak membaca sastra Indonesia, dan sudah lama sekali sejak saya membaca novel berbahasa Indonesia.

Bahasa yang Ahmad Tohari pakai bukanlah bahasa yang sehari-hari kita dengar, ditambah lagi terdapat kata-kata serapan dari bahasa Jawa dan bahasa Sunda sehingga pembaca yang bukan merupakan penutur bahasa-bahasa tersebut mungkin akan merasa kesulitan membacanya. Saya pun juga harus mencari di google beberapa hal, misalnya saja tempe bongkrek. Latarnya yang berada di tahun 1950-1960an di kampung terpencil membuat penggambaran sedikit sulit — tapi, disinilah menurut saya menariknya Ronggeng Dukuh Paruk. Walaupun menantang pada awalnya, namun pendeskripsian Ahmad Tohari sangatlah detil, sehingga latar tempat dan waktu terasa nyata.

Bahasa dan penggambaran yang ia pakai pun sangat… vulgar? Dalam beberapa kalimat dan adegan saya bahkan kaget! Karena sungguh, saya tidak mengantisipasi hal-hal tersebut. Bahasa dan adegan tersebut tidak halus, namun bukannya kasar — seperti apa adanya, telanjang. Di satu sisi terkadang sangat dapat diserasikan dengan penggambaran Dukuh Paruk sendiri: sangat simplistis, jujur, mesum, dan udik.

Hal lainnya yang saya sangat suka dari novel ini ialah penggambaran karakter. Masing-masing karakter begitu kuat penggambaran sifatnya sehingga sebagai pembaca, kita dapat berempati dan berpikir sesuai dengan jalan pikiran mereka — dan sungguh, menurut saya, sebuah novel fiksi dapat dibilang sangat baik ketika pembaca dapat berempati dengan karakter cerita. Dimulai dari Srintil kecil: mulai dari kegenitan masa kecil hingga jati dirinya yang sensual namun tetap elegan, hingga matang dan keibuan. Rasus: segala kebingungan dan perdebatan yang ia hadapi pun dapat kita ikuti.

Kejadian-kejadian di tahun 1960-an yang menjadi topik utama di karya ini baru dijelajahi setelah kira-kira setengah buku. Setengah awalnya lebih fokus kepada pengenalan latar belakang dan karakter, dan bagaimana Srintil menjadi seorang ronggeng seutuhnya.

Disinilah menurut saya salah satu aspek novel ini yang membuat saya kurang sreg — terkadang alurnya menjadi seperti bertele-tele dan membosankan. Walau pendeskripsian yang detil menjadi aspek yang menarik, jika terus dipergunakan sepanjang cerita, terasa seperti berlebihan dan menjadi membosankan. Dari segi alur pun terkadang saya merasa banyak sub-plot yang dirasa tidak terlalu memberikan arti atau nilai tambah terhadap keseluruhan cerita.

Namun, secara keseluruhan, alur cerita dianyam rapi oleh Ahmad Tohari, membuat pembaca tetap penasaran membacanya dan ingin tahu apa yang terjadi dengan Srintil berikutnya — dan bukan karena hanya romansa klise seperti novel cinta remaja. Ditambah lagi, pembaca dapat melihat dan mengikuti betul perkembangan sifat dari diri Srintil, Rasus, dan masyarakat Dukuh Paruk.

Dalam kasus saya, saya sampai merasa harus mencari teman berdiskusi atau bercerita ketika saya selesai membaca novel ini. Dan tidak banyak novel yang dapat membuat saya begitu bersemangatnya mendiskusikannya dengan orang lain ketika saya selesai membaca sebuah karya fiksi. Dari sinilah, menurut saya pribadi, Ronggeng Dukuh Paruk menunjukkan kekuatannya: ia adalah sebuah karya untuk dipikirkan lebih lanjut, untuk bahan diskusi, untuk bahan refleksi.

Ever since middle school, I’ve always responded “reading!” excitedly when asked what my hobby is. This is true, as I found reading as a means to escape daily routine and be immersed in an entirely different world (I’m a hardcore fictions reader, mind you), despite how cliche it may sound.

However, some reality check. Ever since the boom of articles and “10 most [insert a random adjective here] [insert a random category here]” lists on the net, I have to admit that I haven’t been reading as much — in fact, the amount of books I read in 2015 can be counted with my one hand only.

Having realized the importance of reading to enrich your mind in a deep and thorough manner (something the bite-size internet articles are not able to offer), as well as training your brain on how to effectively deliver messages, I have committed myself to read more this year, be it fiction or non-fiction books.

I set my goals realistic: at least one book per month. I don’t assign a specific genre or ratio of fictions & non-fictions. For a start I just need to read. Period.

So far, entering the month of May this week, I have read four books and currently reading a fifth one, targeting it to be finished by this week! It’s a small number, but it keeps the wheel turning.

This is going to be the list of books I read over the year, and this post will be continuously updated throughout.

  1. Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari
  2. Lean In for Graduates – Sheryl Sandberg
  3. The Curious Incident of the Dog in the Night-Time – Mark Haddon
  4. Sharp Objects – Gillian Flynn
  5. Dark Places – Gillian Flynn
  6. Outliers – Malcolm Gladwell
  7. Harry Potter and the Cursed Child – J.K. Rowling
  8. Feminist Fight Club – Jessica Bennett
  9. Eleanor & Park – Rainbow Rowell

P.S: I will also post a review/post-reading note/reflection in separate posts

Four winters, forty eight full moons (technically we don’t have winters but for literature’s sake just take it as it is…)

We can count our blessings in numbers: forty eight months, nineteen cities, eight birthdays, seven countries, six companies, three continents, two degrees, two universities, one car – you name it.  Numbered milestones are used as a measurement of how we have been and how we’ve changed (hopefully for the better) for the ­­past years. We have evolved from a frugal university students into interns-trying-to-make-things-work and finally an aspiring young professionals (or at least that’s how we wish we are) and on the process, shifting our ways of communication and responding on the process.

Keeping numbered achievements also feel nice – it makes people feel valuable, achieving, successful. Isn’t it nice to put statistics and color-coded map of the world?

I invite us to highlight the fact that it is less about the numbers and the successes, but more to the things we have gone through in order to keep the wheels turning and the counts up. Behind “nineteen cities”, for example, lies endless bickering on where to go and which transportation we should take and behind “six companies” lay week-long discussion on career paths and self-development (in which each of us plays an important role) plans. Behind three anniversary blog posts lay spiteful LINE messages (which usually mean I miss you but I’m way too high in my ego to admit such) and numerous fights hidden by those shiny numbers. These are the things that matter, even more so than the numbers – because they were the ones that made us grow and made us who we are today.

In the fourth of the fourth day of the fourth month (basically, fourth anniversary), let us shy away from the past milestones and instead, look ahead.

It is no time to boast on what we’ve done – it is time to think on what we are going to do. What are we going to do next and how should we shift ourselves so that we fit to each other’s missing puzzle piece? What have we been lacking and how will we address them in order to make things work on the long run? What have we done well and would they still be relevant in the future? Have we been focusing on the right things? Aren’t these the questions grown-ups supposed to ask themselves in a mature relationship? After all, we’ve grown, haven’t we?

There are lots of questions to ask and consequently, lots of answers to be sought.

And I believe we should try to seek those answers together.

Happy anniversary, more to come!

cahya 5

P.S. thanks for tolerating me at my worst

P.P.S. On another note I really think I’ve had too much self-development trainings hence lots of self-reflection questions.