Archive

bandung

Kali pertama saya naik angkot dari ujung Cisitu sampai ujung Tegalega adalah ketika saya nyasar.
Betenya nggak karuan. Bagaimana tidak, saya sedang membawa sebuah koper, satu tas laptop, dan satu tas ransel, nyasar, hujan deras, angkotnya sering mogok, nggak tau jalan, dan baru sebulan di Bandung. Ketika itu, saya berharap agar saya tidak usah lagi ke daerah Tegalega yang ruwet, panas, apalagi naik angkot.

Maka, ketika saya memutuskan untuk meneliti Museum Sri Baduga yang letaknya dekat sekali dengan stasiun Tegalega, penghalangnya hanya satu: saya nggak mau naik angkot ungu itu mentok sampai mentok lagi.

Keteguhan niat (dan kehabisan ide untuk topik Tugas Akhir lain) akhirnya membawa saya bolak-balik Cisitu-Tegalega demi si museum. Tidak pernah terbayang pula oleh saya bahwa pada akhirnya, saya malah menikmati perjalanan 45 menit ke Tegalega naik angkot ini.

Berangkat dari Cisitu yang sarat anak ITB menuju Tegalega yang sarat asap knalpot dan debu, perjalanan ini melewati begitu banyak ragam tempat, ragam orang, ragam jenis kegiatan. Di Cihampelas selalu, tidak pernah tidak, ramai pengunjung dari luar, sibuk membeli baju “I Love Bandung” dan gelang-gelang kulit sintetis di pinggir jalan dan mencoba es duren dan mochi-mochian merah-hijau. Mereka datang entah dengan bis yang diparkir di Factory Outlet (yang dulunya restoran) Arum Manis atau dengan mobil sendiri yang entah diparkir dimana. Selalu bergerombol, jarang sekali sendiri. Perjalanan kali ini saya tersenyum melihat pool X-Trans di seberang Ontjom Raos, terbayang saatnya nanti ketika tempat tersebut tidak lagi saya kunjungi secara reguler per bulan, ketika nantinya saya tidak menetap di Bandung. Pasti sakit rasanya nanti.

Beranjak menuju arah Stasiun, lagi-lagi saya tersenyum. Mengingat Yogyakarta dan Baluran, dan keripik tempe, coklat Cha-Cha, bistik, dan pecel Madiun yang dihabiskan didalamnya. Lucu ya, melihat stasiun. Persis seperti bandara, ia menjadi saksi perpisahan dan perjumpaan kembali. Entah seberapa pilunya masuk ke peron atau gate, euforia berjumpa kembali dengan orang tersayang selalu membuat berada di stasiun dan bandara nagih. Namun itu cerita lain lagi.

Dari “sisi turis” Bandung, angkot ungu ini beranjak ke tempat yang…lebih lokal. Setelah stasiun sudah terlihat beda raut muka orang-orangnya. Ada ibu-ibu keturunan Tionghoa (yang bahasa Sundanya fasih sekali walau sesekali terdengar kata-kata Hokkian) yang baru selesai olahraga, naik di Pasir Kaliki turun di dekat Pasar Baru. Ada juga pengamen yang naik dan “nebeng” dari depan Paskal Hyper Square dan turun di perempatan setelahnya. Tidak luput pula ibu-ibu yang habis belanja, naik di Pasar Baru dan turun di Stasiun Tegalega untuk ganti ke Cibaduyut. Mereka semua fasih berbahasa Sunda, dan saya hampir yakin ketika saya selesai TA dan bolak-balik nanti saya bisa berbahasa Sunda.

Di Bandung Utara tadi banyak pohon. Di Bandung Selatan lebih banyak ruko. Mulai dari yang menjajakan baju biasa sampai baju sablonan, duplikat kunci hingga duplikat piala, cetak kartu nama hingga cetak undangan kawinan. Makanan pun beragam. Dari makanan Cina (Bakmi Akim, misalnya) di daerah yang, sampai sekarang jujur saya tidak tahu namanya, saya sebut “Chinatown” sampai jajanan-jajanan tidak sehat sarat MSG di gerobak-gerobak.

Angkot yang saya naiki ini akan masuk gang-gang off track kalau macet. Untung bagi si Bapak angkot, untung juga untuk saya! Saya jadi melihat empat orang bapak-bapak yang sedang ngopi-ngopi di pos satpam, tertawa, memberikan suatu scene yang nampaknya akan cocok difoto oleh kamera-kamera manual seperti yang teman saya suka foto. Saya jadi melewati mbok-mbok jamu yang ternyata masih banyak! Di rumah saya di Tangerang sudah jarang, soalnya.

Keluar-keluar, angkot sudah sampai Astana Anyar. Jalanan yang saya rasa tidak pernah sepi ini mungkin kalau diukur PSI-nya bisa sampai level unhealthy-hazardous. Lihatnya saja pusing. Seakan-akan motor yang terdaftar di Bandung harus melewati jalanan ini biar afdol. Angkot-angkot yang warna dan coraknya jarang saya temukan di Dago sana mulai berseliweran. Dari yang kuning-hijau-merah sampai yang oranye-putih. Damri yang saya kira tidak beroperasi pun muncul disini. Ada juga kendaraan lintaskota menuju kota-kota lain di Jawa Barat yang saya tidak hapal namanya.

Sampailah kita di Stasiun Tegalega! Stasiun yang kali pertama saya kunjungi dalam keadaan banjir dan becek ini ternyata tidak sebegitu buruk dalam keadaan kering. Tantangan berikutnya adalah menyebrang jalan. Serius, kalau mau jadi certified pedestrian kayanya harus lolos tes menyebrang jalan di daerah sini. Motor yang intensitasnya kalau dijadikan kekuatan arus sungai mungkin adalah level 4 dan angkot yang melaju penuh determinasi itu rasanya tidak ikhlas membiarkan pejalan kaki menyebrang. Ditambah dengan terik dan debu yang amat sangat, penyebrangan menuju taman Bandung Lautan Api menjadi salah satu area penyebrangan tersulit yang pernah saya lewati.

Ketika anda sudah berhasil menyebrang dan menjadi certified pedestrian, anda harus berhadapan dengan aa’-aa’ yang sedang memasang tendanya di Pasar Kaget Tegalega. Tantangannya adalah bagaimana anda bisa menemukan jalanan yang bisa dilewati diantara barang jualan mereka, tetap awas melihat rangka-rangka besi yang mereka pakai di atas kepala anda, dan tahan dengan aa’ yang sesekali menyapa ramah, “mau kemana, yang?”

Mungkin perjalanan ini tidak terdengar menyenangkan, sumpek, kotor, debu, bau. Tetapi, saya menemukan kenikmatan tersendiri dapat bertegur sapa dengan bapak-bapak yang menjual jaket Adidas dan Nike di pinggir jalan, mencuri dengar Mbok Jamu yang sedang mengobrol dengan supir angkot trayek Cibaduyut, melihat remot-remot “serbaguna” dan pretelan motor bekas, mendengar alunan musik disco-dance-dugem di Bandung Atas sana digantikan oleh alunan dangdut koplo, dan mendengar obrolan-obrolan berbahasa Sunda di dalam angkot yang hanya bisa saya tebak-tebak artinya.

Sama halnya dengan kenikmatan yang saya dapatkan ketika berjalan-jalan ke luar kota atau luar negeri, dalam perjalanan 45 menit itu saya melihat orang-orang baru dengan gaya hidup yang berbeda. Lucu juga ketika dipikir-pikir bahwa perbedaan itu hanya beberapa kilometer jauhnya dari tempat tinggal saya.

Dan entah bagaimana caranya, rasanya, setiap perjalanan 45 menit kesana menyajikan kesan yang berbeda serta cerita-cerita yang berbeda setiap kalinya. Angkot ungu itu ternyata tidak seburuk itu juga.

—————————–

Pikiran dan perasaan dalam angkot ungu yang tempat duduknya dilapisi spanduk bekas rokok merk “Black”, dari Cisitu ke Tegalega, 29 Juni 2013.

Advertisements

They say writing is harder when you’re happy. I wholeheartedly agree. When you’re happy, you don’t want to get distracted, you want to be immersed in whatever activity you were engaged to, whatever emotion you were feeling, so on and so forth. So, pardon this writing for being so boring, blatant, not metaphorical (or too metaphorical), and…….boring.

I love walking.

I just love it. The activity of being alone, not needing anyone else’s consent to change route or stop by any interesting road signs, singing to a little tune, watching busy people in their cars honking at each other, girls hugging tightly to their boyfriends on a motorbike, kids selling flower in Dago, observing patterns on the road, and listening to the city’s busy tune. I adore the easy flow of ideas and reflections that popped out in my mind.

Bandung is a romantic city. I love Bandung. But the ped walk here sucks. I tripped lots and lots of times because it’s missing some block pavings and it has poor lightings. Nevertheless, walking in Bandung is always a pleasure.

Today I walked. I walked from my campus to my dorm (which, I checked from Google Maps, is 1.3 km long). It was not my first time yet this was the happiest walk of them all!

I walked under the rain.

Call me a desperate romantic, desperate movie lover for copying Midnight in Paris’s love for walking under the rain, but, I love walking under the rain. I know it’s far from walking under the rain in Paris, but hey! Bandung is indeed the Paris of Java. *tetot*

It all started when I finished class hours ago. I was suffering from my monthly mood swing (which sucked) and every.thing.seems.so.wrong. Not wanting to spoil this happy post, I’ll skip the depressed-damsel-in-distress part and move directly to my decision to WALK UNDER THE RAIN!

I was wanting to go home, I just want to be in the secure sanctuary of my room, and alas, it was raining. It was raining hard. I waited for 10 minutes and it didn’t show any sign of stopping. So when it wasn’t so hard, I decided to just walk outside.

I went to the main road and saw lottttttttttts of people waiting for angkot Cisitu.  I joined them. I knew that there was no way in heaven or earth three empty angkot would come and brought us all. It was raining and angkot Cisitu at that hour was as scarce as a fullerene. (Is fullerene rare?) So I decided to walk to my dorm.

And it was an incredibly lucky decision.

I walked. Past students waiting for angkot with their umbrellas. Past students sheltering under warung and ojek. Past high school students gossiping while waiting for the rain to stop. Past people smoking in Circle K. Watching the water droplets hit the road, reflected, scattered to many places in a beautiful rhythm. Watching streetlights being reflected in the wet surface. Feeling like the road belongs to you and only you as other pedestrians would prefer to stay at their rooms, hiding under the warmth of their blankets.

I walked while thinking how silly I was today. I walked while thinking how estrogen and progesteron can change your life. Both in a good way and a bad way.

I walked and I had a heartfelt evening.

Yay!

 

 

(this post, compared to the previous post is a further proof that I am on my PMS and that PMS is real.)

Kemarin, 30 September 2012, saya dateng ke Keuken Food Festival di Lodaya. Sebenarnya, menurut saya konsepnya oke. Daripada ke mal-mal, sumpek-sumpek, itu-itu lagi, bolehlah ya sekali-kali kita “reclaim the streets” (tagline-nya Keuken) dan menikmati jalanan sambil menikmati kuliner Bandung yang makin unik?

Kalau urusan makanan, ergh, impulsiveness level unimaginable deh. Kalap mata. Kalap lidah. Kalap perut. Terus di Keuken banyak yang menurut saya menarik, kaya Risoles Melepuh, Es Kering, Mie Merapi. Paling nggak bukan cuma cupcakes-cupcakes dan red velvet yang mengambil spotlight dunia kuliner anak muda beberapa bulan terakhir ini.

Namun, apa yang saya pikirkan kemarin di Keuken? Laper? Enak? Kalap?

Ramai. Sesak.

Sebenernya hal yang bagus sih, acaranya sukses, makanannya laku, tujuan orang-orang untuk “kembali ke jalan” juga tercapai. Tapi, mungkin memang dasarnya jiwa ambivert-introvert lagi muncul kali ya. Haha.

(Sekilas tentang introvert: http://www.theatlantic.com/magazine/archive/2003/03/caring-for-your-introvert/302696/)

Nah! Kemarin di Keuken penuh sesak. Saya aja hampir gabisa berjalan leluasa. Itu jam 6-an, yang mana panggungnya baru main dan DJ set-nya juga baru beberapa. Lebih malam lagi mungkin lebih ramai. Reportase teman saya yang ke Keuken siang hari bilang siang hari relatif lebih sepi, walau tetap ramai.

Saya, yang lagi ingin dan muncul sifat introvert-nya (bukan antisocial), merasa sesak. Ingin beli makanan, tapi ada komunitas sedang berkumpul di depannya. Ingin duduk untuk menikmati makan, tempat duduk yang disiapkan rasanya ngga mencukupi jumlah pengunjung. Penasaran lagi baca menu, terdorong oleh arus pengunjung yang ramai bergerak menuju panggung. Intinya, saya yang ke Keuken tujuannya untuk cari dan makan makanan yang lucu-lucu ini gak tercapai.

Lalu muncul sebuah ide!

A food fest for the introverts.

A food fest where you are not obliged to socialize. A food fest where you play calm and slow music instead of rock bands and DJ set. A food fest where you come to look for food.A food fest where everyone’s walking slowly, not rushing to meet someone in front of the music stage. A food fest where you can smile at strangers, but not needing to continue to further conversations. (ya ya, mulai)

Bayangin ambience kaya Kineruku, tapi banyak makanan lucu! Playlist semacam itu, banyak tempat duduk, banyak buku, banyak makanan! Ngga ada yang ngeliatin kalo beli Chicken Tartar-nya Siete sambil duduk di kursi kosong, menikmati makanan aja sendirian.

Dimana mungkin lombanya bisa selain yang membutuhkan socializing skill seperti share twitter atau instagram, atau Instax Competition, mungkin hunting clues? Atau justru ngga butuh lomba. Adain tempat dan ambience-nya aja, kayanya this little, oft-misunderstood group would be happy.

Atau justru ngga ada yang dateng?

Ngga tahan untuk nulis.

Buku, kopi susu ABC, Minggu siang yang sama sekali nggak ramai, hujan, keabstrakan Woody Allen, Hegarmanah dan udaranya yang sejuk, nampak jauh dari mana-mana, dan tenang dalam sendiri.

Minggu siang well spent.