Archive

fiksi

We are immortals.

We leave our marks in this world.

Who says?

Our dead body will eventually decay, absorbed by roots of plants, used up for their photosynthesis. In the end we are no more than atoms and quarks, chemical substances. No name, no pride – nothing. Just atoms.

Workers died finishing off the Chrysler Building, do you remember their names? Slaves died of starvation in the making of the Gaza Pyramid, do you even know them? Those anonymous, long-forgotten workers? Girls drowned by the vicious waves, do searches for her linger years after she went missing? What mark?

The Pyramid is there. It was their mark. The Chrysler still standing tall and proud. It was their mark. Memories of her linger in the hearts of her relatives. It was her mark.

And what good does memory do? Relatives will eventually die in ten years or so. Will the grandson of the relative remember the girl? Will the memories of a dead relative be passed onto another? We will eventually be forgotten.

On our days, we will try our best to make those people happy and ensure they have the bests of life. That is our mark.

They’ll die.

Oh shush.

Advertisements

Ia melihat hamparan bunga di sekelilingnya, mencium bau segar rumput yang baru dipotong, memanjakan kupu-kupu yang bergelut manis di tangannya. Berjalanlah ia, merasakan halusnya kelopak bunga yang menggelitik di kakinya. Mereganglah tangannya, membuka jarinya, merasakan angin-angin yang melewati jarinya; menyapa, lembut.

Ia membenarkan rambut panjangnya yang kusut oleh angin, menyisirnya dengan jarinya, membenarkan tiara kecil yang tertata manis di kepalanya.

Berbalik badan dan melambai pada tupai-tupai dan kelinci lucu yang menunggunya, lalu berlari menuju mereka.

Ia seorang putri. Katanya. Dengan tiara, dan gaun yang nampak berat, gembung, dan heboh, orang pun percaya. Ditambah dengan temannya yang kebanyakan makan kacang mentah untuk kudapan dan melompat atau memanjat pohon, ia tentu seorang putri.

—————

Lelaki itu mengecek penampilannya barang satu kali lagi. Memastikan rambutnya tersisir rapi, coklat keemasan, dan tak terusik walau terterjang angin. Memastikan lagi persiapannya untuk menghadapi medan perang hari ini terbawa dan siap pakai. Memastikan lagi bahwa sang musuh belum melakukan pergerakan yang berarti.

Badannya tegap, dengan dada yang bidang dan tangan serta kaki yang terlihat kuat. Mukanya seakan memancarkan kepercaya-dirian, seakan ia yakin dapat mengalahkan dan menaklukkan musuh-musuhnya dengan sekali gerakan tangan. Ia memastikan bahwa pita suaranya dapat diajak berkompromi, siap melawan teriakan dan memberi teriakan penyemangat di medan penuh sesak dan emosi itu.

Masuklah ia ke medan perang.

!

BISING. Manusia biasa akan langsung keok, langsung pergi – tapi tidak dengan lelaki itu. MARAH. Luapan emosi satu per satu muncul, sering muncul bersamaan. MERAH. Merah, berceceran di medan perang, dan kontan semua orang bereaksi. Mengibrit. Kesana kemari.

Tidak ada lagi rambut coklat keemasan tersisir, mana ada. Yang tersisa hanyalah sisa-sisa peperangan hari itu, yang akan disambut lagi esok hari. Dengan emosi yang sama. Dengan risiko yang sama.

Read More

Ia kosong. Termenung. Dalam gelap. Terbayang dalam otaknya potongan-potongan bagian tari kontemporer tanpa suara. Wanita bertutu yang meregangkan kakinya. Wanita yang terjatuh. Lampu panggung yang mulai redup. Teringat tuts-tuts piano.

Lalu ia lepas. Menatap atas. Menatap entah apa.

Terpejam. Meregangkan lehernya sendiri, capai. Dalam gelap dan diam, ia terbawa.

Bayangan akan videonya dengan latar belakang gunung bersalju itu membawanya ke Skandinavia. Atau Tibet. Atau Carstensz. Ia tak peduli. Selama ada puncak bersalju dan langit biru, ia terbawa. Terbang, bebas, lepas bersama hembusan angin yang menerpa jaket tebalnya. Marah, hilang, bersama teriakannya yang teredam deru angin. Ia melompat dan membuka mata.

Tersadarkan oleh hentakan air, ia menikmati ruangan sendirinya. Terjagakan dari suara, kebisingan makhluk-makhluk sosial, hiruk pikuk darat, ia merasa segalanya berjalan……..lambat. Meregangkan tangan dan kaki, membiarkan matanya terbasuh.

Diam

Dan lama.

Meringkuklah ia seperti janin pada rahim. Menghisap jempolnya yang kisut karena air. Kemudian menutup matanya.

Dan terbangun.