Archive

Monthly Archives: May 2013

Beberapa bulan lalu ketika saya (masih) on-fire mengerjakan Tugas Akhir saya mengenai Museum Sri Baduga, dan didorong oleh keinginan saya untuk menegakkan hak saya pada UU no 14 tahun 2008 mengenai Informasi Publik (karena baru magang di Open Government Indonesia), saya ingin meminta data mengenai pengunjung museum di Indonesia. Ketika itu, yang saya tuju adalah Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Terdengarnya enak di kuping, Budpar, Budpar, Budpar. Selidik punya selidik, Budpar udah ngga ada bung.

Memang dasarnya telat, saya jadi baru sadar bahwa Budpar sekarang sudah ganti jadi Parekraf dan “Bud” berada di bawah Kemdikbud.

Padahal, saya sudah kesenengan sendiri karena saat lagi browsing http://budpar.go.id, ada data lengkap mengenai pengunjung Indonesia. Melihat header page-nya yang “Pariwisata dan Ekonomi Kreatif”, saya jadi ngeh dan langsung ganti alamat ke http://kemdiknas.go.id. Yang saya kesali adalah, serius Kementeriannya ganti tapi websitenya ngga?

Sadar nggak sih bahwa addressnya masih Budpar dan Kemdiknas?

Ketika saya browsing situs Kemdiknas, makin kesal. Setengah mati nyari data-data tentang kemuseuman! Kebudayaan saja sedikiiiiiiit sekali disinggung. Adanya tentang pendidikan, pendidikan, pendidikan. Bukannya sentimen dengan pendidikan, tapi kalau namanya Kemdikbud, boleh dong saya mengharapkan porsi yang sama antara Dik dan Bud?

Misalnya pada halaman ini, mengenai rencana strategis kementerian. Sebagai seseorang yang sudah mentok membuat Bab 1 – Latar Belakang, saya berharap bahwa pada halaman ini akan ada rencana pengembangan museum oleh Kementerian tersebut. Ternyata, judul halamannya saja “Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010-2014”. Bete, ngga?

Header picture-nya pun LJK dan siswa sekolah. Mana dong, budaya dan bahasanya? Semakin bete lagi melihat gambar ini:

Struktur Organisasi Kemdikbud

Tulisannya mungkin agak terlalu kecil dan strukturnya sendiri lumayan rumit, namun yang hijau-hijau itu yang berhubungan dengan Kebudayaan. Dengan dibawahnya ada “Kemuseuman”, “Kesenian dan Perfilman”, “Sejarah dan Nilai Budaya”, serta “Diplomasi Budaya”. Nampak sangat banyak dan luas untuk sebuah Ditjen.

Sebagai seseorang yang suka ngedumel sendiri kalau melihat permuseuman Indonesia, reaksi spontan saya adalah “ya jelas aja museumnya ngga jelas kaya gini…”. 

Museum di Indonesia konon katanya di artikel yang saya baca (karena di situs Kemdiknas.go.id ngga ada hihihi) ada ratusan. Bahasa di Indonesia juga katanya ada ribuan bahasa dengan lebih banyak lagi dialek. Ada bahkan bahasa yang penuturnya tinggal hitungan jari, sedangkan bahasa adalah suatu elemen budaya yang intangible sehingga jika penuturnya sudah tidak ada, akan sangat sulit bagi orang awam untuk mempelajarinya. Elemen budaya di Indonesia tentu banyak. Sebagai negara yang memiliki banyak sekali suku dan memiliki sejarah yang lamanya sampai ribuan tahun lalu (Homo floresiensis, anyone?), tentu banyak artefak, baju, dan rumah adat yang Indonesia miliki. Cagar Budaya pun begitu. Mulai dari candi hingga gedung-gedung 1920an, Indonesia memiliki banyak ragam cagar budaya.

Pandangan saya sebagai orang awam, elemen-elemen budaya ini agak terlalu luas dan kurang begitu koheren dengan pendidikan. Pendidikan sendiri sudah begitu banyak, begitu luas, dan begitu rumit. Kurikulum 2013, misalnya. UN yang katanya kacau, misalnya. Ketidakrataan tingkat pendidikan, misalnya. Guru di desa terpencil yang tidak digaji, misalnya.

Jika dilihat pada situs kemdiknas.go.id pada bagian berita, jarang sekali terlihat update mengenai isu budaya, melulu isu pendidikan. Saya melihatnya seperti Kemdikbud sekarang tidak membagi fokus dan perhatian yang cukup terhadap isu budaya.

Kalau boleh saya memilih, saya lebih memilih agar “Bud” kembali ke “Budpar” dan bukannya “Dikbud”. Agaknya “Budpar” lebih memiliki ranah yang cukup dekat dengan beberapa elemen budaya, seperti Cagar Budaya dan Sejarah. Budaya dapat mendukung pariwisata dan begitu juga sebaliknya. Menjauhkan kedua hal tersebut dan malah mendekatkan Budaya ke suatu ranah yang scope-nya sudah sangat luas dengan masalah yang terus-terusan berubah, menurut saya, salah besar.

“Bud” jadi seperti tidak ada batang hidungnya di pemerintahan.

Huf.

Advertisements

Layaknya anak SD kebanyakan, saya pergi ke museum hanya ketika ada kunjungan sekolah. Saya ingat pergi ke Museum Fatahillah, Museum Bahari, Museum Gajah bersama teman dan guru SD saya. Saat itu, juga layaknya anak SD lainnya, saya hanya pergi ke museum, melihat artefak-artefak sambil lalu, mengisi LKS yang diberi guru, menertawai bentuk meriam aneh yang ada di Museum Fatahillah, dan acuh kepada Bapak Penjaga Museum yang menjelaskan barang-barangnya. Kala itu, museum bagi saya tidak lebih dari tempat wisata favorit untuk sekolah-sekolah agar dapat mempromosikan jargon “berwisata sambil belajar”.

Sejak itu, bisa dihitung jari berapa kali saya ke museum sampai SMA. Sekalinya saya ke museum pun, itu adalah ketika saya berada di kota yang memang menonjolkan wisata budayanya seperti Jogjakarta. Bagi saya kala itu, museum membosankan. Bagaimana tidak, artefaknya berdebu, tempatnya gelap, seram, baunya pengap dan lembab. Saya pun tidak dibebani oleh LKS berlembar-lembar. Buat apa saya ke museum?

Walau museum bagi saya membosankan, lain halnya dengan sejarah. Saya suka sekali dengan sejarah, sangat suka. Waktu SD kelas 5 dan 6 dulu, saya selalu mengklaim bahwa saya adalah jagonya IPS (kecuali ekonomi koperasi), dan saya dapat menjelaskan runut waktu jaman penjajahan Belanda hingga kemerdekaan. Waktu SMP, saya dapat menjabarkan kepada Ibu dan Kakak saya mengenai kerajaan Kutai hingga Mataram Islam, dengan tambahan cerita-cerita trivial seperti alasan kenapa Majapahit dinamakan Majapahit. Sewaktu SMA, saya terobsesi dengan sejarah Inggris. Saya diberikan kemudahan perpustakaan SMA yang begitu lengkap dan menariknya hingga saat istirahat dan pulang sekolah, saya berhenti di perpustakaan untuk membaca buku-buku sejarah Inggris. Saya ingat pernah meminjam Horrible Histories: English Monarch, membaca biografi Elizabeth I dan perseteruannya dengan Mary I, bahkan Arthur and the Knights of the Round Table. Secara spesifik, saya jatuh cinta kepada cerita-cerita era Tudor.

Karena itulah, pada tahun 2010, ketika saya dapat pergi ke London dan melihat situs-situs seperti Tower of London dan Hampton Court, I was more than happy. Rasanya seperti hidup di buku-buku yang selama ini saya kagumi!

Ketika saya masuk Hampton Court Palace, saya benar-benar terkejut. Tidak pernah saya membayangkan bahwa tempatnya akan sebagus itu! Bayangkan saja, ketika pengunjung masuk, kita disambut oleh pengawal yang memakai baju dari zaman dulu. Di gerbang masuk, kita diberi beberapa barang: brosur, peta, dan undangan pernikahan. Ya, undangan pernikahan. Henry VIII yang terkenal dengan 6 istrinya itu menikah dengan Kateryn Parr di Hampton Court Palace. Dan saya diberi undangannya. How sick was that? Tentu, undangannya bukan asli, namun hanya sebuah drama dan role-play dimana pengunjung dapat membantu Kateryn Parr memilih baju nikahnya, serta melihat seremoninya.

Wedding Invitation di Hampton Court Palace

Wedding Invitation di Hampton Court Palace

Ketakjuban saya tidak berhenti sampai situ. Ketika saya melewati dapurnya, saya melihat restoran yang ternyata menjual makanan-makanan dari zaman 1700-an. Waw. Berada di Hampton Court Palace kala itu seperti benar-benar membawa saya ke era Tudor.

Sepulangnya dari sana, saya berpikir, kenapa ya, kok ketika saya ke Keraton tidak seheboh ini?

Kemudian pertanyaannya berhenti tak terjawab.

————-

Lain lagi ceritanya ketika saya pergi ke Singapura dan memasuki Southeast Asia Civilization Museum. Kunjungan saya ke museum ini bukannya karena saya niat dan tertarik, hanya saja saya bosan dan memiliki waktu luang. Ternyata, di museum tersebut sedang ada pameran Perdagangan Asia Tenggara yang menjelaskan mengenai rute-rute perdagangan laut di Asia Tenggara. Museumnya cukup menarik, dengan pencahayaan yang exquisite dan audio guide yang informatif.

Kunjungan saya ketika itu cukup berakhir dengan kekesalan. Kenapa?

Banyak dari artefak dan cerita yang disajikan pada pameran itu berasal dari Indonesia, namun sayangnya tidak pernah sekalipun saya melihat display dan cerita semacam itu di museum apapun di Indonesia, bahkan Museum Nasional. Saya kesal dengan Depbudpar (masih Depbudpar waktu itu) atau Depdikbud (sekarang) atau apalah itu yang websitenya sendiri sekarang masih tertukar (kemdiknas.go.id dan budpar.go.id).

Saya pulang dari museum tersebut membawa kekesalan dan suatu ide.

——-

Setelah kunjungan-kunjungan ke museum di Inggris, saya berubah. Saya ketagihan pergi ke museum. Saya merasakan interaksi antara sejarah dan pengunjung di museum-museum tersebut. Disana saya menyadari bahwa pergi ke museum memang dapat memberi ilmu sambil berwisata.

Berangkat dari situ, saya hobi ke museum. Ketika sampai di Indonesia, saya mengajak teman saya ke Museum Nasional, penasaran. Ketika di Bandung, saya mengajak teman saya ke Museum Konperensi Asia Afrika, juga penasaran. Bahkan waktu itu saya mendaftar menjadi anggota SMKAA (Sahabat Museum KAA). Ketika saya pergi ke Amerika, saya kesenengan sendiri bisa ke Smithsonian Museums (bahkan sempat berkaca-kaca terharu saking kerennya). Ketika saya punya pacar (akhirnya), saya mengidekan museum date. Ketika saya pergi ke kota-kota lain di Indonesia, yang saya cari di internet adalah ada museum apa sajakah di kota tersebut.

Berangkat dari situ, saya memutuskan untuk menjadikan Museum Sri Baduga sebagai topik Tugas Akhir saya (iya, iya…dikerjain abisini…).

Berangkat dari situ, saya memiliki harapan, ide, doa, agar museum-museum di Indonesia nantinya bisa memberikan pengalaman dan perasaan yang saya dapatkan ketika saya mengunjungi Hampton Court Palace. Saya ingin agar nantinya saya bisa pergi ke Museum Nasional dan melihat ruangan arcanya tidak seramai, menyeramkan, dan selembab itu lagi. Saya harap 9000 koleksi yang Museum Sri Baduga miliki dapat diputar dan tidak berhenti di ruang penyimpanan. Saya ingin agar saya dapat, entah bagaimana caranya, merubah sistem manajemen museum yang ada di Indonesia, beserta dengan sistem pemasarannya. Saya berharap bahwa 20 tahun dari sekarang, anak-anak SD akan memiliki persepsi yang berbeda dari saya ketika SD dulu, bahwa museum membosankan, menyeramkan, dan berdebu. Bahwa museum lebih dari lembaran LKS dan meriam berbentuk aneh. Saya berdoa agar museum di Indonesia dapat berubah, berubah menjadi lebih baik.

Selamat Hari Museum Internasional!

Don’t expect too much of a someone. Don’t expect the world will go according to what we have in mind. Don’t expect that people will change. Wait, people change. Don’t expect that they can adjust to your demand.

Lower your expectations. Lower your demand. Try to meet it halfway. Understand people’s capability, otherwise the pain will rebound back on you, leaving you alone, in pain, clouded with all what-ifs and should-haves.

  1. Go to Hampton Court
    Buy the White Fudge Brownie, buy whatever original-Tudor-menu being offered in the kitchen, listen to Pride & Prejudice’s Dawn while strolling in the garden, read Alison Weir’s Children of England before going there, read a book in the garden, buy a coin from the museum shop and toss it to the fountain in the Garden, promising that I’ll be going back to the Palace later.
  2. Go to Canterbury’s museums
    Every single one of them.
  3. Go to the British Museum
    Like, duh. Ask for possible internship/part-time/permanent/volunteer position.
  4. Take a picture in the Platform 9 3/4 in King’s Cross
    POTTER LIVES.
  5. Enter Westminster Abbey
    Actually enter the Abbey, gaze at its glasses
  6. Watch The Last Shadow Puppets/Arctic Monkeys/Coldplay
    You know these cool, overly awesome lads will not have concerts in Indonesia, Cahya :*
  7. Contact East Anglia students

letih mencoba merangkai kata dari pikiran yang ada. letih mencoba menenangkan diri. ketika terseret hempasan angin, terbawa lautan pasir, terlena aliran waktu, tenggelam.

waktu jahat, ia menyeret diam-diam. ia menjanjikan, manis-manis. ia mengharapkan. ia menenggelamkan, dalam sunyi, mendekam tiba-tiba, menyisakan tiada apa selain hampa dan bisikan-bisikan meminta.

kalau boleh, tidaklah lagi ingin merasa dikejar waktu.

ruang megah. gagah. besar. lebar. jauh. dingin. kosong. menginginkan orang untuk mengucap rasa, memberikan kesan, menyampaikan apa yang tak tersampaikan. padahal hanya ruang. ruang-ruang kecil tak terisikan.

—-

ada waktu ketika seseorang tidak lagi ingin meminta, tidak lagi ingin berucap, tidak lagi ingin menangis. tidak lagi ingin mengharapkan, diharapkan, dijanjikan, dan menjanjikan. ia hanya ingin meringkuk, meringkuk dalam hangat, lalu diam. tidak lagi menagih kata, mengambil ucapan yang tercecer, atau mengharap mimpi. ia sudah tidak peduli, tidak percaya. acuh dan menutup indera, hanya mengharapkan waktu tahu apa yang dia mau.

hm? masih mengharapkah?